<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berjalan di Atas Manhaj Salafus Shalih &#187; Aqidah &amp; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://abufaruq.wordpress.com/category/aqidah-manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufaruq.wordpress.com</link>
	<description>Blog Abu Faruq as Salaf</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2007 08:04:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abufaruq.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0964f730d492a47f33ca5d3dd333626f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berjalan di Atas Manhaj Salafus Shalih &#187; Aqidah &amp; Manhaj</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Memuliakan rumah-rumah Allah</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 05:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/</guid>
		<description><![CDATA[ Memuliakan rumah-rumah Allah


Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi 
  
Sebidang tanah di bumi ini yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  adalah rumah-rumah- Nya (masjid) yang di dalamnya ditegakkan ibadah kepada-Nya dan Dia di Esakan ..
 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=39&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><font size="4"><strong><span class="print-title"> <font size="6"><span style="font-family:georgia;">Memuliakan rumah-rumah Allah</span></font></span></strong></font></p>
<p style="text-align:center;"><span class="print-sub"></span><br />
<span class="print-sub"></span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="print-sub"><span style="font-weight:bold;">Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi </span></span></p>
<hr />  <span class="print-normal"></p>
<p><font size="1"><span style="font-family:verdana;">Sebidang tanah di bumi ini yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</span><br /><span style="font-family:verdana;">  adalah rumah-rumah- Nya (masjid) yang di dalamnya ditegakkan ibadah kepada-Nya dan Dia di Esakan ..</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :</span><br /></font></span><span class="print-normal">فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang &#8221; .( An Nur : 36) .</span></font></span><span id="more-39"></span><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"></span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Maksud ayat ini bahwa Dia Yang Maha Tinggi memerintahkan kepada hamba-hamba- Nya agar menjaga dan membersihkan masjid dari kotoran, permainan, perkataan dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan di dalamnya. Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhu dan para ulama ahli tafsir yang lainnya tentang ayat ini bahwa Allah melarang melakukan sesuatu yang sia-sia di dalamnya .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Kaum Muslimin semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, bahwa masjid dibangun dengan tujuan digunakan sebagai tempat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , sholat, menyampaikan ilmu agama, mengadakan pembicaraan yang baik dan yang sejenisnya.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Oleh karena itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk memuliakan rumah-rumah Allah dengan menjaga adab-adab ketika hendak memasukinya dan ketika di dalamnya, di antara adab hendak masuk masjid dan ketika berada di dalamnya sebagaimana dituntunkan didalam agama kita adalah :</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;">  1. Membersihkan mulutnya dari bau yang tidak enak  ketika hendak mendatangi masjid .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Shalallahu &#8216;alahi wa sallam beliau bersabda:</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8221; Siapa yang makan bawang merah, bawang putih atau bawang bakung (jengkol, petai dan selainnya), maka sungguh janganlah dia mendekat masjid kami, karena malaikat terganggu dengan apa manusia terganggu dengannya&#8221;.</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;font-weight:bold;"> 2. Membaca sholawat atas nabi dan berdoa ketika hendak masuk ketika telah sampai pada pintunya.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan dalam Sunan Abu Dawud dan dishahihkan Al Imam Ibnu Hibban dari sahabat Abu Humaid atau Abu Usaid Al Anshory, berkata: Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda :</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Jika seseorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia membaca sholawat atas nabinya, kemudian hendaknya dia berkata :</span><br /></font></span><span class="print-normal">اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ  </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Ya Allah ya Tuhan kami, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku &#8221; .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Kemudian ketika keluar membaca :</span><br /></font></span><span class="print-normal">اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ</span><br /><span class="print-normal"> <font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;Ya Allah ya Tuhan kami , sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari keutamaan -Mu&#8221;. </span><br /><span style="font-family:verdana;"> Atau membaca doa-doa yang terdapat di dalam hadits-hadits shahih yang lainnya .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;">  3. Ketika masuk mendahulukan kaki kanan, di karenakan bagian kanan itu untuk sesuatu yang mulia , sedangkan ketika keluar melangkahkan kaki kiri, dalam rangka memuliakan yang kanan.</span><br /></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Al Imam Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan di dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8221; , dari Aisyah rodhiyallahu anha, dia berkata :</span><br /></font></span><span class="print-normal"><br />
يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ كَانَ النَّبِيُّ<br />
</span><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;">&#8220;Bahwasanya Nabi  suka mendahulukan bagian yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci dan dalam semua urusannya (yang mulia) &#8221; .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;font-weight:bold;"> 4. Menunaikan hak masjid yaitu melakukan sholat dua rakaat sebelum duduk (sholat tahiyatul masjid) kapanpun seseorang masuk dan walaupun sudah terlanjur duduk sebelum sholat.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Qatadah bin Rib&#8217;i Al-Anshory, dia berkata: Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ</span> <br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;Jika seseorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk (di dalamnya) sehingga dia melakukan sholat dua rakaat &#8220;.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;">  Al Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkannya di dalam &#8220;Shahihnya&#8221; dari sahabat Abu Dzar bahwa dirinya telah masuk masjid (dan dia duduk sebelum sholat), maka Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam berkata kepadanya :&#8217;Apakah kamu telah melakukan sholat dua rakaat ?&#8217;, dia berkata : belum , maka beliau katakan :&#8217;berdirilah kamu dan sholatlah dua rakaat &#8216;&#8221; .</span><br /><font size="4"><br /><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 5. Tidak mengumumkan barang yang hilang di dalamnya .</span></font></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Al-Imam Ahmad, Muslim dan selain dari keduanya telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu.</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal"> مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا</span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Barang Siapa yang mendengar seseorang sedang mencari barang yang hilang di dalam masjid , maka hendaklah dia berkata : Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk demikian ini &#8221; .</span><br /><font size="2"><br /><span style="font-family:verdana;"> 6. Tidak melakukan jual beli di dalamnya .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan di dalam hadits yang telah diriwayatkan Al Imam Tirmidzi, Nasai dan selain keduanya, juga dishahihkan oleh Al Imam Ibnu Khuzaimah dan Hakim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, sesungguhnya Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam</span><br /><span style="font-family:verdana;">  bersabda :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal"><br />
إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ &#8230;الحديث.</span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;">  &#8220;Jika kalian melihat seseorang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka katakanlah Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu… &#8221; .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Jual beli secara syar&#8217;i adalah tukar menukar barang dengan suka rela di atas sisi yang disyariatkan, maka jual beli itu ada empat macam:</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Barang dijual (ditukar) dengan barang .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Barang dijual dengan mata uang .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> . Mata uang dijual dengan mata uang (tukar menukar uang) baik yang sejenis seperti rupiah dengan rupiah atau yang tidak sejenis seperti rupiah dengan dolar.</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Manfaat dengan harta ( jual jasa) .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Segala sesuatu yang tergolong dalam makna jual beli secara syar&#8217;i dan dilakukan di dalam masjid maka dia telah melakukan pelanggaran di dalamnya sehingga berhak didoakan kerugian sebagaimana yang ditunjukkan di dalam hadits ini , dan sebagian ulama memakruhkan memberikan pelajaran untuk anak-anak (juga dewasa) di dalam masjid yang ditetapkan upah di dalamnya karena tergolong dalam jual beli .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 7. Tidak melakukan pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada pribadi seseorang, sedangkan jika manfaatnya kembali kepada keumuman agama kaum muslimin seperti berlatih menggunakan pedang, mempersiapkan alat-alat perang untuk berjihad dan yang lainnya yang tidak mengandung makna penghinaan bagi masjid, maka tidak mengapa .</span></font></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Di dalam &#8220;Shahih Bukhari dan Muslim&#8221; dari Aisyah rodhiyallahu anha , dia berkata :</span><br /><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Sungguh aku melihat Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam pada suatu hari di pintu kamarku, sedangkan kaum muslimin Habasyah sedang bermain-main tombak (berlatihmenggunaka nnya) di dalam masjid , sementara Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam menutupi aku dengan pakaiannya , maka aku melihat permainan mereka&#8221; </span><br /><span style="font-family:verdana;"> .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Di dalam salah satu lafadznya Umar masuk lalu merendahkan badannya untuk mengambil kerikil, maka kerikil itu dilemparkannya kepada mereka, kemudian beliau Shalallahu &#8216;alahi wa sallam berkata : &#8220;Biarkan wahai Umar &#8221; .</span><br /><font size="2"><br /><span style="font-family:verdana;"> 8. Tidak mengeraskan suara ketika berbicara </span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Di dalam &#8221; Shahih Bukhari &#8221; dari sahabat Sa&#8217;ib bin Yazid radhiyallahu &#8216;anhu</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , dia berkata : Aku pernah berdiri di dalam masjid , maka ada seseorang yang telah melempar kerikil kepadaku, lalu aku perhatikan orangnya ternyata dia adalah Umar bin Khathab, maka dia berkata: &#8220;datangilah dua orang itu kemudian bawalah mereka kepadaku&#8221;, lalu aku mendatanginya dengan dua orang itu , dan dia berkata: &#8220;Siapa kalian ini atau dari mana kalian berdua ini ?&#8221;, maka keduanya berkata :dari Thaif, lalu Dia (Umar) berkata : &#8220;Kalau kalian berdua dari penduduk negeri (Madinah) ini tentu aku cambuk kalian, karena kalian telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam&#8221; .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Sebagian ulama membolehkan mengeraskan suara dalam pembicaraan ilmu (agama) dan selainnya yang dibutuhkan kaum muslimin karena ia adalah tempat berkumpulnya mereka yang terkadang harus melakukannya .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 9. Tidak membaca syair-syair yang mengandung makna syirik dan mungkar, sedangkan jika mengandung makna yang benar seperti makna tauhid dan ketaatan tidaklah terlarang selama tidak menjadikan orang lain yang ada di masjid tersibukkan dengannya dari ibadahnya.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam &#8220;Shahih Bukhari dan Muslim&#8221;, dari sahabat Abu Hurairah bahwasanya Umar berjalan melewati Hasan bin Tsabit sedang mendendangkan syair-syair di dalam masjid , maka Umar mengarahkan perhatian kepadanya dengan tidak suka , maka Hasan berkata :&#8221;Sungguh aku pernah mendendangkan syair (di dalam masjid) dan di dalamnya ada seseorang yang labih baik dari engkau (yaitu Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam)&#8221; </span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 10. Tidak duduk melingkar di dalamnya sebelum ditegakkannya sholat jumat walaupun untuk mempelajari ilmu (agama), disebabkan akan memutus shaf-shaf kaum muslimin dan disamping itu mereka diperintahkan untuk berkumpul lebih awal pada hari jum&#8217;at dan merapatkan shaf yang di depan dan seterusnya .</span></font></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan Al Imam Ibnu Khuzaimah di dalam &#8220;Shahihnya&#8221; , dan Tirmidzi di dalam &#8220;Sunannya&#8221; dan dia menghasankannya dari Amer bin Syu&#8217;aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">أَنَّهُ نَهي أَنْ يَتَحَلَّقَ النَّاسُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;…. Sesungguhnya beliau melarang manusia duduk melingkar (di dalam masjid) pada hari jum&#8217;at sebelum sholat (jum&#8217;at) &#8221; .</span><br /><font size="2"> <br /><span style="font-family:verdana;"> 11. Tidur di dalam masjid dibolehkan baik laki-laki maupun perempuan , terlebih lagi bagi para musafir dan orang yang tidak memiliki rumah atau karena ada hajat .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam &#8220;Shahih Bukhari&#8221; dan selainnya bahwa Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhu tidur di masjid Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam di masa beliau ketika dirinya masih muda sebelum berkeluarga .</span><br /><span style="font-family:verdana;">           Al Imam Bukhari menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , dia berkata : Sungguh aku melihat tujuh puluh ahli suffah – yaitu para sahabat yang fakir &#8211; (tidur di masjid Nabi), tidak ada dari mereka yang memiliki rida (pakaian bagian atas badan) , sebaliknya di antara mereka ada yang memiliki kain penutup badan saja , atau satu helai pakaian saja, kain itu mereka ikatkan pada leher-leher mereka, maka di antara pakaian itu ada yang naik sampai pertengahan kedua betisnya, dan di antaranya ada yang naik sampai kedua mata kakinya , lalu dia rapatkan dengan tangannya karena tidak suka auratnya terbuka .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Wahai saudaraku muslimin hiasilah diri engkau dengan adab dan akhlak yang mulia di manapun berada terlebih lagi ketika di dalam masjid, pakailah masjid itu hanya sebagai tempat dzikir (beribadah) kepada Allah, janganlah dijadikan sebagai tempat bermain, berdagang, tempat duduk-duduk, dan sebagai jalan tanpa ada sebab, janganlah engkau berikan bagian (ibadah) itu untuk selain Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalamnya .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;">           Dia Yang Maha Suci berfirman :</span><br /></font></span><span class="print-normal">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</span><br /> <span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah &#8221; . (QS Al-Jin :18).</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Seseorang yang menegakkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya niscaya dia meraih keberuntungan di dunia dan di akhirat kelak .</span><br /></font></span><span class="print-normal">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</span><br /><span class="print-normal"> <font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar&#8221;.(QS Al-Ahzab:71) .</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">نَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ(7)جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِي رَبَّهُ(8َ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya&#8221;.(QS Al Bayyinah: 7-8).</span></font>  <span style="font-family:times new roman,serif;"></span></p>
<p>Wallahu a&#8217;lam Bish-Shawab. ..</p>
<p><span style="font-weight:bold;"> Maraji :</span><br />
<font size="1"> 1. Tafsir Al-Imam Qurtubi.<br />
2. Tafsir Al-Imam Ibnu Katsir.<br />
3.Shahih Bukhari dengan syarah Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar.<br />
4. Shahih Muslim dengan syarah  Al-Imam Nawawi.<br />
5.Sunan Tirmidzi dengan syarah Tuhwatul Ahwadzi,  Al Mubarokfury Abul &#8216;Ala.<br />
6. Sunan Nasa&#8217;i dengan Hasyiyah As-Sindi.<br />
7. Sunan Abu Dawud dengan syarah Aunul Ma&#8217;bud, Muhamad Syamsul Hak Al-Abadi.<br />
8. Shahih Al-Imam Ibnu Huzaimah.<br />
9.  Al-Mustadrok  Al-Imam  Hakim.<br />
10. Subulus Salam Syarah Bulughul Marom, Al-Imam Son&#8217;ani .<br />
11.At-Tuhfatul Kirom Ta&#8217;lik Bulughul Marom , Sofiyurrohman Al Mubarokfuri .<br />
12. Syarah Kitab Al Buyu&#8217; , Syaikh  Abdurrohman Al Mar&#8217;i Al -Adani  Al- Yamani.</font></p>
<p>Sumber : Buletin Da&#8217;wah Al-Hikmah, Semarang<br />
Dikirim via email oleh Al-Akh Abu Zubair Eko</span>http://www.darussalaf.org/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=article&amp;sid=645</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=39&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 04:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?
Jawaban.
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=35&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?</strong></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?<span id="more-35"></span></p>
<p>Jawaban.<br />
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.</p>
<p>Sungguh Allah Ta&#8217;ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya.<br />
<span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;"><span></span></span><span dir="rtl" style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span><br />
&#8220;Artinya : Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.&#8221;[Ali Imran:103]</p>
<p>Dan Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221; [Al-Anfal: 63]</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala selama-lamanya tidak akan menyatukan antara hati orang-orang kafir, murtad dan firqah-firqah (kelompok-kelompok) sesat [1], Allah hanya menyatukan hati orang-orang mukmin yang bertauhid. Allah Ta&#8217;ala berfirman mengenai orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan akidahnya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.&#8221; [Al-Hasyr : 14]</p>
<p>Dan firman-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.&#8221; [Hud : 118]</p>
<p>&#8220;Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Rabbmu&#8221;, mereka itu ialah orang-orang yang memiliki akidah yang benar dan manhaj yang benar, maka mereka itulah orang-orang yang selamat dari perselisihan dan perpecahan.</p>
<p>Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidahnya masih rusak, manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud, karena sesungguhnya menyatukan dua hal yang berlawanan itu adalah hal yang mustahil.</p>
<p>Karena tidak bisa menyatukan hati dan menyatukan umat ini, kecuali kalimat tauhid [2], yang dimengerti makna-maknanya, diamalkan kandungannya secara lahir dan batin, bukan hanya sekedar mengucapkannya, sedang pada sisi yang lain masih mau menyelisihi apa yang menjadi tuntutannya. Maka sesungguhnya ketika itu kalimat tauhid ini tidak akan ada manfaatnya.</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah ?An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Keadaan firqah-firqah dan hizb-hizb (golongan-golongan yang menyimpang) yang ada di muka bumi saat ini -sebagaimana dikatakan adalah merupakan saksi dan menjadi bukti yang paling nyata, karena mereka berbeda-beda dalam memahami Al-Kitab (Al-Qur&#8217;an), dan berbeda-beda dalam mengamalkannya, serta mereka menyelisihi Al-Kitab. Apabila hati manusia itu sepakat dan saling mengenal maka akan menyatu, dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Sebagaimana Rasulullah menyebutkannya dalam hadits shahih bahwa beliau bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Ruh-ruh adalah pasukan tentara maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang saling mengingkari akan berselisih.&#8221; [HR. Al-Bukhari: 3158]<br />
[2]. Orang-orang yang berusaha menyatukan umat manusia bersamaan dengan rusaknya akidah dan manhaj (berbagai kelompok) yang berbeda-beda itu -sebagai contoh saja bukan hanya terbatas pada contoh ini- pada jaman kita ini adalah firqah Ikhwanul Muslimin (IM) di mana mereka berusaha menyatukan barisan-barisannya yang terdiri dari Rafidhah, Jahmiyyah, Asy&#8217;ariyah, Khawarij, Mu&#8217;tazilah. Bahkan orang-orang Nasrani pun bisa masuk pada barisan mereka, maka janganlah engkau lupakan perkara yang sangat nyata ini. Wahai para pembaca yang budiman, telah kita lewati ucapan-ucapan beberapa ahli ilmu (ulama) mengenai mereka ini dalam sela-sela kitab ini. Yang kesimpulannya merka (IM) tidak mementingkan dakwah tauhid dan tidak berhati-hati dan memperingatkan kesyirikan. Dan ini adalah meruapan sifat (ciri-ciri) khusus yang dimiliki oleh &#8216;firqah tabligh&#8217; pula. Karena Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah (pengikut Sayyid Quthub) tidaklah jauh berbeda dari firqah tablih ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=35&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meraih Kemuliaan Hidup dengan Tauhid</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/meraih-kemuliaan-hidup-dengan-tauhid/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/meraih-kemuliaan-hidup-dengan-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 01:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/meraih-kemuliaan-hidup-dengan-tauhid/</guid>
		<description><![CDATA[Meraih Kemuliaan Hidup dengan Tauhid
				Kamis, 15 Maret 2007 &#8211; 01:46 PM, Penulis: Muhammad Tamrin 						
 			  			

Berbicara tentang kebahagiaan hidup, kita jumpai banyak pihak yang berkomentar tentangnya. Ada yang menawarkan metode-metode barat yang penuh kebebasan dan kekacauan, tanpa aturan. Demikian pula, ada yang menawarkan metode lain yang berseberangan dengan Islam.
Adapun metode Islam, hendaknya seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=27&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span class="news-title">Meraih Kemuliaan Hidup dengan Tauhid</span></strong><br />
<span class="dateartikel">				Kamis, 15 Maret 2007 &#8211; 01:46 PM, Penulis: Muhammad Tamrin 						</span></p>
<p align="right"> 			  			<a href="http://www.darussalaf.org/myprint.php?sid=613" class="pn-normal" target="_blank"><br />
</a></p>
<p>Berbicara tentang kebahagiaan hidup, kita jumpai banyak pihak yang berkomentar tentangnya. Ada yang menawarkan metode-metode barat yang penuh kebebasan dan kekacauan, tanpa aturan. Demikian pula, ada yang menawarkan metode lain yang berseberangan dengan Islam.<br />
Adapun metode Islam, hendaknya seorang muslim menyadari bahwa kebahagiaan hidup itu didapati dengan berpegang teguh dengan agamanya, yakni ajaran yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam-.</p>
<p>Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- berfirman,<br />
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ ءَايَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ<br />
“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS. Ali-Imran: 101)</p>
<p>Sedang ajaran Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- yang teragung, sekaligus perintah Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- yang terbesar adalah men-tauhid-kan Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala-, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dalam beribadah kepada-Nya.<span id="more-27"></span></p>
<p>Apa itu tauhid? Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Syarah Tsalatsah Al-Ushul (hal. 39)“Tauhid adalah mengesakan Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- dalam ibadah”. Jadi, anda beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, baik itu nabi, malaikat, wali, dan lainnya.</p>
<p>Setelah mengetahui definisi tauhid, jelas bahwa tidak mungkin seorang muslim dapat meraih kebahagian hidup, sedangkan dalam kehidupannya dia (disadari atau tidak) masih menyekutukan Allah -Ta&#8217;ala- dalam beribadah kepada-Nya. Realita di masyarakat kita, masih ada diantara mereka yang sering datang meminta ke tempat-tempat yang dianggap keramat, berupa kuburan, pepohonan, boek-boek (kuncup), sungai, laut, bebatuan, dan lainnya agar dipanjangkan umur, laris dagangannya, profesinya langgeng, minta diselamatkan dari bahaya, dan sebagainya. Padahal semua ini, tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah-Ta&#8217;ala-. Allah –Ta’ala- berfirman,<br />
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ<br />
“Dan barangsiapa menyeru (mendo’ai) tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (QS. Al-Mu`minun: 117)</p>
<p>Jadi, jelas bagi kita bahwa berdo’a kepada selain Allah atau meminta-minta (seperti yang dijelaskan di atas) kepada selain Allah –Ta’ala- merupakan kesyirikan yang diharamkan oleh Allah dalam ayat tadi.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, Allah -Ta&#8217;ala- sebagai Pencipta kita, Maha Tahu keinginan kita, yaitu ingin memperoleh kebahagiaan hidup di dunia, dan akhirat. Dia telah memberitahu kita, dan memperingatkan kita dengan firman-Nya,<br />
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا<br />
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisa: 36)</p>
<p>Dalam ayat ini, dan lainnya, Allah-Ta&#8217;ala- memerintahkan kita agar beribadah hanya kepada-Nya, dan melarang kita dari menyekutukan-Nya.<br />
Diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- merupakan rahmat bagi kaum muslimin. Lantarannya, mereka dapat meraih kebahagian di kehidupan dunia dan akhirat, karena di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Allah -Ta&#8217;ala- berfirman,<br />
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ<br />
“Kitab (Al Qur&#8217;an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 2)<br />
Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- berfirman,<br />
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ<br />
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya: 107)</p>
<p>Penghalang-penghalang untuk meraih kebahagiaan hidup<br />
1.Syirik, -yakni menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah-Ta&#8217;ala-, hak mencipta, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta dan lain diantara perbuatan Allah-Ta&#8217;ala-. Demikian pula, menyamakan Allah dengan makhluk-Nya dalam perkara ibadah, dan nama-nama atau sifat Allah. Jika seorang meyakini ada selain Allah, yang mengatur alam semesta, memberi rezeki, menciptakan, menghidupkan dan mematikan atau dia menyerahkan ibadah kepada selain Allah-Ta&#8217;ala-, seperti menyembelih untuk selain Allah, memberikan sesajen pada tempat-tempat yang dianggap keramat (seperti pohon-pohon yang besar, bebatuan, sungai-sungai), jin-jin, dukun dan yang lain sebagaimana yang Anda jumpai di negara kita ini.<br />
Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam Ar-Rofi’iy -rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang menyembelih sesuatu untuk selain Allah dari kalangan hewan, benda mati (seperti, arca) sebagai bentuk pengagungan, dan ibadah, maka sembelihannya tidak halal &amp; apa yang ia lakukan merupakan perbuatan kekafiran laksana orang bersujud kepada selain-Nya dengan sujud ibadah”. [Lihat Al-‘Aziz Syarh Al-Wajiz (12/84-85)]</p>
<p>Jika seorang melakukan perkara-perkara tersebut, maka dia telah menyamakan selain Allah dengan Allah. Artinya, dia telah melakukan kesyirikan besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengekekalkannya dalam neraka, jika dia mati dalam keadaan seperti itu dan belum bertobat kepada Allah. Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala-,<br />
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ<br />
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al-Maidah: 72)</p>
<p>Maka kesengsaraan apakah yang lebih besar dibandingkan dua perkara tersebut: diharamkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka, naudzu billah. Amalan pelaku kesyirikan, walaupun banyak dan menggunung pada hari kiamat, tidaklah dianggap dan diperhitungkan sama sekali, bila bercampur dengan noda kesyirikan. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,<br />
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا<br />
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqan: 23)</p>
<p>2.Menyelisihi perintah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.<br />
Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda,<br />
مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَجْتَنِبُوْهُ, وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَاسْتَطَعْكُمْ, فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْقَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَاءِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلىَ أَنْبِيَاءِهِمْ<br />
“Sesuatu apapun yang saya larang bagi kalian, maka tinggalkanlah; sesuatu apapun yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Karena, yang membinasakan orang-orang sebelum kalian, banyaknya pertanyaan mereka dan menyelisihi nabi-nabi mereka” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6858) &amp; Muslim dalam Shohih-nya (1336)]</p>
<p>Dalam hadits ini, Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- memerintahkan kita agar menjauhi apa-apa yang telah beliau larang. Seperti membuat perkara-perkara baru dalam agama yang tidak pernah beliau contohkan, dan para sahabat. Kemudian, Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- memerintahkan kepada kita agar melaksanakan apa yang diperintahkannya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.</p>
<p>Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita bahwa binasanya umat-umat sebelum kita, disebabkan mereka banyak bertanya dan menyelisihi/menentang nabi-nabi mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim memperhatikan hal ini, apakah selama ini dia menyelisihi nabinya atau tidak. Ini tidaklah diketahui, kecuali dengan mempelajari Al-Kitab &amp; Sunnah; apakah dengan membaca, mendengarkan kaset-kaset ceramah, ataukah dengan mengkhususkan diri belajar di pondok pesantren, misalnya; atau minimal menghadiri pengajian-pengajian di mesjid-mesjid, di pesantren, dan lainnya. Dengan mempelajari dengan mempelajari Al-Kitab &amp; Sunnah, seorang muslim akan dapat meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika seorang muslim jauh dari mempelajari Al-Kitab &amp; Sunnah, maka ini akan menyebabkan dia mudah menyelisihi Nabinya -Shallallahu &#8216;alaihi wasallam-, dan beragama dengan dasar ikut-ikutan. Ikut-ikutan dalam beragama merupakan perkara tercela, dan sebab seorang disiksa di alam kubur. Dalam sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malik -radhiyallahu &#8216;anhu- tentang orang yang ragu dan ikut-ikutan dalam beriman. Ketika ditanya tentang tiga perkara di dalam kubur, maka dia akan menjawab,<br />
“Oh, oh!, saya tidak tahu, saya hanya mendengar orang-orang mengucapkan sesuatu, lalu saya pun mengucapkannya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Ash-Shohih (86) &amp; Muslim (904)].</p>
<p>Jadi, hendaknya seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- dan hadits-hadits Rasulullah -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, maka dengan kerelaan hati tunduk dan patuh. Dengan demikian dia akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- berfirman,<br />
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br />
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu&#8217;min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.&#8221; &#8220;Kami mendengar dan kami patuh.&#8221; Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nur: 51)</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 01 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>diambil dari: http://<a href="http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=613p?name=News&amp;file=article&amp;sid=613">www.darussalaf.org/index.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=613</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=27&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/meraih-kemuliaan-hidup-dengan-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dan Salafus Sholih</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-dan-salafus-sholih/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-dan-salafus-sholih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2007 07:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-dan-salafus-sholih/</guid>
		<description><![CDATA[Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dan Salafus Sholih
Ditulis oleh Abdurrahman Sarijan di/pada Maret 17th, 2007
MAKNA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DAN SALAFUS SHOLIH
Oleh: Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan
1. Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
a. Makna As-Sunnah.
Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:”As-Sunnah adalah jalan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dia berada di atasnya dan juga para sahabat yang selamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=24&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><a href="http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/17/makna-ahlus-sunnah-wal-jamaah-dan-salafus-sholih/" rel="bookmark" title="Taut Tetap ke Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dan Salafus Sholih">Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dan Salafus Sholih</a></h2>
<p class="date">Ditulis oleh <a href="http://abdurrahman.wordpress.com/">Abdurrahman Sarijan</a> di/pada Maret 17th, 2007</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:13pt;">MAKNA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DAN SALAFUS SHOLIH</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center">Oleh: Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong>1. Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong>a. Makna As-Sunnah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:”As-Sunnah adalah jalan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dia berada di atasnya dan juga para sahabat yang selamat dari berbagai macam syubhat (kerancuan) dan syahwat” (Kasyful Kurbah; 11-12).</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">Imam Al-Alusy dalam kitabnya<strong> Ghoyatul Amaany I/428</strong> berkata:”Kata As-Sunnah pada asalnya adalah setiap perkara yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan apa saja yang telah beliau sunnahkan atau perintahkan dengannya baik dalam permasalahan ushuluddin (dasar-dasar agama) maupun dalam permasalahan furu’ (cabang-cabang). Kata ini juga (baca: As-Sunnah) digunakan pada setiap perkara yang mana para shalafus sholih berada di atasnya, baik dalam masalah imamah, pengutamaan (diantara para sahabat) maupun menahan diri dari setiap perkara yang para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berselisih padanya”.<span id="more-24"></span></p>
<p><span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">Jadi makna Ahlus Sunnah dari definisi di atas adalah <strong>orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh padanya dalam seluruh perkara yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu ahlus sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat”.</strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong>b. Sebab Penamaan Ahlus Sunnah</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span> </span><strong><span> </span></strong>Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah:”Hanya saja mereka dinamakan dengan ahlus sunnah karena mereka mengikuti sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Muntaqa, hal: 90).</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">Berkata Abu Mudhaffar Isfirayiny:”Tidak ada pada kelompok-kelompok yang ada pada umat ini orang yang paling mengikuti khabar-khabar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya diantara merekamelainkan mereka dinamakan ahlus sunnah” (Tafsir fii Ad-Dien, hal: 167).</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong>c. Makna Al-Jama’ah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">Makna Al-Jama’ah memiliki beberapa pengertian, diantaranya:</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">c.1. <strong>Jama’atul Muslimin</strong>, yakni mereka (kaum muslimin) yang berada di atas sesuatu yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya, sebagaimana dalam Hudzaifah bin Yaman bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left:63pt;text-align:justify;"><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';"></span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span>….يلتزم جماعة المسلمين وأمامهم ( البخاري؛ مسلم)</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><em><span></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>“…engkau berpegang teguh dengan jama’atul muslimin dan imam mereka”</em><span> (HR. Bukhari; Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:36pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>c.2. <strong>Sesuatu yang menetapi Al-Haq.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata:”Al-Jama’ah adalah sesuatu yang menetapi al-haq walaupun engkau seorang diri” (Al-Lalaka’I dalam As-Sunnah; Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Ighatsul Lahfan 1/70).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>c.3. <strong>Al-Jama’ah </strong></span><span> </span>adalah jika engkau mengutamakan Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Engkau tidak menganggap kurang dari salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga mengkafirkan manusia (kaum muslimin) dengan perbuatan dosanya. Engkau mensholatkan orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dan sholat di belakang mereka serta mengusap kedua khuf-nya ketika berwudlu…” (Al-Intiqa’ fii Fadli Tsalatsatil ‘Aimatil Fuqaha, hal: 163-164).</p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>c.4. <strong>Al-Jama’ah</strong> bermakna jama’ah kaum muslimin yang mana mereka berkumpul di bawah satu amir (pemimpin) (Al-I’tishom II/264).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>c.5. <strong>Al-Jama’ah </strong>berarti juga berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) secara berjama’ah, tidak terpecah dan berselisih yang membawa kepada pertentangan. Ibnu Tin berkata:”Yaitu menyelisihi Abu Bakr dan ‘Umar”. Dan yang lainnya berkata:”Perselisihan yang membawa pada pertentangan dan fitnah” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhri, 7/73).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>d. Sebab Penamaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi rahimahullah berkata:”Bahwasannya Ahlus Sunnah, sebagiannya tidak mengkafirkan kepada sebagian yang lain. Dan tidak ada diantara mereka perselihan yang menimbulkan sikap bara’ (berlepas diri) diantara mereka dan tidak juga mengkafirkan sesama mereka. Jadi, merekalah ahlul jama’ah yang menegakkan al-haq dan oleh karena itu mereka dinakaman ahlul haq. Mereka tidak terjatuh ke dalam perselisihan dan pertentangan. Tidak ada satu kelompokpun dari kelompok yang menyelisihi sunnah melainkan pasti terjadi diantara mereka pengkafiran sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Kelompok-kelompok tersebut seperti Khawarij, Rafidlo, Qodariyah dll. Sehingga apabila berkumpul tujuh orang dari mereka pada satu majelis niscaya mereka berpecah belah, karena pengkafiran sebagian mereka kepada sebagian yang lain” (Al-Farqu Bainal Firaq, hal: 361).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah:”…ahlus sunnah dinamakan ahlul jama’ah, karena ahlul jama’ah adalah berkumpul, sedangkan kebalikannya adalah berpecah, walaupun terkadang lafad Al-Jama’ah menjadi satu nama untuk satu kaum yang berkumpul. Dan ijma’ (kesepakatan) adalah dasar yang ketiga yang dipegang atasnya dalam permasalahan ilmu dan agama. Ahlus sunnah selalu mengukur dengan tiga dasar ini (Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’) seluruh perkataan dan perbuatan manusia baik lahir maupun bathin yang mempunyai hubungan dengan agama” (Majmu’ Fatawa, III/157).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Jadi yang dimaksud <strong>Ahlus Sunnah Wal Jama’ah</strong> adalah mereka yang mana berada seperti keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada padanya, serta para sahabatnya. Mereka berpegang teguh kepada sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah dari golongan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in serta para imam yang mendapat petunjuk serta orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dalam mengikuti sunnah-sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka adalah orang-orang yang menjauhi perbuatan bid’ah disetiap tempat dan jaman…” (Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mafhumuha, khashoishuha, khashaish ahliha, hal: 16. Muhammad Ibrohim Hamad).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>e. Sejerah Munculnya Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Yang kami maksud dalam hal ini adalah sejarah terjadinya perbedaan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari berbagai kelompok-kelompok ahli bid’ah wal firqoh. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata:”Jalan mereka (ahlus sunnah) adalah dienul Islam yang Allah utus dengannya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi tatkala Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan yang seluruhnya akan masuk Neraka kecuali satu golongan saja –yakni Al-Jama’ah atau dalam hadits yang lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”<em>Mereka adalah orang yang seperti aku dan para sahabatku berada pada hari ini”­</em>- jadilah orang yang berpegang dengan Islam bersih dari macam campuran (pikiran yang sesat) sebagai ahlus sunnah wal jama’ah. Diantara mereka ada orang-orang yang shidiq, para syuhada’ dan orang-orang yang sholih” (Majmu’ Fatawa, III/159).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>f. Nama-nama Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki nama-nama yang banyak, diantaranya adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>1.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlus Sunnah wal Jama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>2.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlus Sunnah tanpa tambahan Al-Jama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>3.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlul Jama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>4.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Al-Jama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>5.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Salafus Sholih.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>6.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlul Atsar.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>7.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlul Hadits.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>8.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>9.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span><span dir="ltr"></span><span>At-Thoifahul Manshurah (golongan yang akan ditolong Allah pada hari Kiamat).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>10.</span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span><!--[endif]--><span dir="ltr"></span><span>Ahlul Ittiba’ (mengikuti), yaitu memgikuti Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Atsar Salafus Sholih. (’Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Mafhumuha…, hal: 17).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>2. Makna Salafus Sholih.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Para</span><span> ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan makna Salafus Sholih, ada tiga pendapat dalam hal ini, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>a. Salafus Sholih adalah para sahabat saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>b. Salafus Sholih adalah sahabat dan tabi’in.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>c. Salafus Sholih adalah sahabat, tabi’in dan tabi’u tabi’in. (Wasathiyah Ahlus Sunnah Baina Firaq, hal: 92-94; Lujum Al-Jama’ah, hal: 276-277).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Berkata   DR.</span><span> Kholifah At-Tamimi hafizahullah:”Dan pendapat yang shahih (benar) masyhur dan merupakan pendapat kebanyakan para ulama ahlus sunnah, bahwa yang dimaksud dengan <strong>salafus sholih</strong> adalah tiga generasi terbaik umat ini yang mana mereka telah direkomendasi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:<em>“Sebaik-baiknya generasi adalah yang mana aku diutus padanya (sahabat), kemudian setelahnya (tabi’in), kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)…”</em> (HR. Bukhari; Muslim). Jadi Salafus Sholih adalah <strong>para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in”.</strong> (Muqtaqodu Ahlus Sunnah wal Jama’ah fii Tauhid Asma’ was Shifat, 1/53-54).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>3. Dalil-dalil Wajibnya Mengikuti Salafus Sholih.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Dapat kami sebutkan disini beberapa dalil yang memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Salafus Sholih baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah (Al-Hadits) sbb;</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>1. Al-Qur’an.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Allah Azza Wa Jalla berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100) سورة التوبة</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><em><span></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”</em><span> (QS. At-Taubah: 100).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;"><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا (115) سورة النساء</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><em><span></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (salafus sholih, pent), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” </em><span>(QS. An-Nasa’: 115).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Ridlonya Allah kepada generasi pertama umat adalah ridlo yang mutlaq, dan Iapun ridlo kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Muqtaqodu Ahlus Sunnah…, 1/56).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>2. Al-Hadits.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<em>“Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku (sahabat), kemudian setelahnya (tabi’in), kemudian setelahnya (tabi’ut tabi’in)…”</em>(HR.Bukhari; Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<em>“Telah berpecah belah Yahudi menjadi 71 golongan, dan telah berpecah belah Nashrani menjasi 72 golongan, dan akan terpecah belah umatku menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu”. Sahabat bertanya:’Siapakah dia ya Rasulullah?’, sabdanya:”Barangsiapa yang berada seperti aku dan para sahabatku berada pada hari ini” </em>(HR. Abu Dawud no. 4596-4597; At-Tirmidzi no. 2640-2641; Ahmad 2/332, 3/120, 145, 4/120: Ibn Majah no. 3991-3993. Hadits Shahih Masyhur).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<em>“Barangsiapa diantara kalian hidup lama setelahku, maka ia akan melihat pereselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah ia (sunnahku dan sunnah para sahabat) dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah dengan perkara yang baru (dalam agama) karena setiap yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Nereka tempat kembalinya” </em>(HR. Abu Dawud no. 4607; At-Tirmidzi no. 2676; Ibn Majah no. 42; Ahmad 4/126,127).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Jahra-Kuwait; 28 Shafar 1428- 17 Maret 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Hamba yang selalu mengharap ampunan-Nya</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span><em>Abu Muhammad Abdur Rahman Sarijan</em></span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=24&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/makna-ahlus-sunnah-wal-jama%e2%80%99ah-dan-salafus-sholih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(KEMUNGKARAN) PERINGATAN MAULID NABI</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2007 06:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/</guid>
		<description><![CDATA[(KEMUNGKARAN) PERINGATAN MAULID NABI

الاحتفال بالمولد النبوي

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu
Peringatan maulid yang banyak diselenggarakan, tidaklah pernah kosong dari kemungkaran, bidah dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Peringatan ini tidak pernah diselenggarakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, juga tidak oleh para sahabat, tabi’in dan imam yang empat, serta orang-orang yang hidup di masa generasi terbaik serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=23&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><a href="http://wiramandiri.wordpress.com/2007/03/26/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/" rel="bookmark" title="(KEMUNGKARAN) PERINGATAN MAULID NABI">(KEMUNGKARAN) PERINGATAN MAULID NABI</a></h2>
<p align="center">
الاحتفال بالمولد النبوي</p>
<p align="center">
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu</p>
<p>Peringatan maulid yang banyak diselenggarakan, tidaklah pernah kosong dari kemungkaran, bidah dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Peringatan ini tidak pernah diselenggarakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, juga tidak oleh para sahabat, tabi’in dan imam yang empat, serta orang-orang yang hidup di masa generasi terbaik serta tidak ada dalil syariat tentang penyelenggaraan acara ini.<span id="more-23"></span><span></span></p>
<p>1. Kebanyakan orang-orang yang menyelenggarakan peringatan maulid terjerumus pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka mengatakan:</p>
<p align="center"> يا رسول الله غوثا و مدد      يا رسول الله عليك المعتمد</p>
<p align="center"> يا رسول الله فرج كربنا       ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد</p>
<p><em>“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berilah kami pertolongan dan bantuan.<br />
Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami bersandar kepadamu.<br />
Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hilangkanlah derita kami.<br />
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan lari.”</em></p>
<p>Seandainya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendengar senandung tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar. Sebab pemberian pertolongan, penyandaran dan pembebasan dari segala derita adalah hanya Allah semata. Allah berfirman,<br />
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ<br />
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?” (An-Naml: 62)</p>
<p>Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengatakan kepada segenap manusia,<br />
قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا<br />
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan’.” (Al-Jin: 21)</p>
<p>Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda,<br />
إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ<br />
“Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu me-mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadis hasan sahih)</p>
<p>2. Kebanyakan pada perayaan maulid terdapat sanjungan serta pujian yang berlebihan kepada Rasulullah. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,<br />
لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ<br />
“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>3. Dalam ulang tahun perkawinan dan lainnya, (terkadang) diucapkan bahwa Allah menciptakan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dari cahaya-Nya, lalu menciptakan segala sesuatu dari cahaya Muhammad. Al-Quran mendustakan mereka, dalam firman-Nya,<br />
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ<br />
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kalian itu adalah Sesembahan Yang Maha Esa’.” (Al-Kahfi: 110)</p>
<p>Telah kita ketahui pula bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diciptakan dengan perantara seorang bapak dan seorang ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dibedakan dengan pemberian wahyu oleh Allah.</p>
<p>Dalam peringatan maulid tersebut, sebagian mereka juga mengatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta karena Muhammad. Al-Quran mendustakan apa yang mereka katakan itu.<br />
Allah berfirman,<br />
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ<br />
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)</p>
<p>4. Orang-orang Nasrani merayakan hari kelahiran Isa Al-Masih, demikian pula mereka merayakan hari ulang tahun sanak famili mereka. Dari tradisi mereka inilah, kaum muslimin mengambil bidah ini (yaitu perayaan ulang tahun –pent.). Mereka merayakan maulid (ulang tahun) nabi mereka, serta merayakan ulang tahun setiap sanak famili mereka.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan,<br />
مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ<br />
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud)</p>
<p>5. Dalam peringatan maulid Nabi tersebut, banyak terjadi ikhtilath (campur aduk laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan –pent.). Ini merupakan perkara yang sesungguhnya diharamkan oleh Islam.</p>
<p>6. Harta yang dihabiskan untuk menghiasi perayaan maulid berupa kertas dekorasi, cat, lampu hias dan yang selain itu mencapai jutaan. Uang sebanyak itu dihabiskan tanpa adanya faedah dan tidak sebanding dengan uang yang diperoleh orang-orang kafir yang menjual hiasan-hiasan yang diimpor dari negeri mereka. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk menyia-nyiakan harta.</p>
<p>7. Waktu yang dipergunakan untuk hiasan-hiasan itu terkadang menyebabkan mereka meninggalkan shalat, sebagaimana yang kami perhatikan.</p>
<p>8. Sudah menjadi tradisi bahwa di akhir acara peringatan mauled, orang-orang berdiri, dengan keyakinan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam hadir. Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab Allah Subhannahu wa ta’ala berfirman,<br />
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ<br />
“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di-bangkitkan.” (Al-Mu’minuun: 100)<br />
Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatas antara dunia dengan akhirat.</p>
<p>Anas bin Malik radhiallaahu ‘anhu berkata,<br />
“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka tahu bahwa Rasulullah membenci hal itu.” (Sahih, HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)</p>
<p>9. Sebagian orang mengatakan, “Dalam maulid, kami membaca siroh (perjalanan hidup) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi pada kenyataannya mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sabda dan siroh beliau. Seorang yang mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah yang membaca siroh beliau setiap hari, bukan setiap tahun. (Mereka bersuka-ria –pent.) pada bulan Rabi’ul Awal, bulan kelahiran Nabi, juga merupakan bulan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Maka bersuka cita di dalamnya tidak lebih utama daripada bersedih pada bulan tersebut.</p>
<p>10. Seringkali peringatan maulid itu berlarut hingga tengah malam. Akhirnya mereka, minimal meninggalkan salat Shubuh secara berjamaah, atau malahan tidak melakukan salat Shubuh.</p>
<p>11. Banyaknya orang yang ikut tidaklah menjadi pembenaran bagi peringatan maulid. Karena Allah Subhannahu wa ta’ala telah berfirman,<br />
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ<br />
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am: 116)<br />
Hudzaifah berkata, “Setiap bidah adalah sesat, meskipun oleh manusia hal itu dianggap sebuah kebaikan.”</p>
<p>12. Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah, sejak dahulu adalah kelompok minoritas di antara manusia. Demikian pula, sampai saat ini mereka adalah minoritas. Mereka tidak mengikuti para tukang maksiat dalam kemaksiatan mereka, tidak pula para ahli bidah dalam perbuatan bidah mereka. Mereka bersabar atas jalan yang mereka tempuh ini, sampai mereka menghadap Rabb mereka. Oleh karena itulah mereka menjadi Ahlus Sunnah”.</p>
<p>13. Sesungguhnya yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Raja Al-Muzhaffar di negeri Syam, pada awal abad ke tujuh hijriah. Sedangkan yang pertama kali mengadakan maulid di Mesir adalah orang-orang Fathimiyun. Mereka ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir adalah orang-orang kafir, fasik dan fajir (tukang maksiat –pent.).</p>
<p>Diterjemahkan dari Minhaj Firqatinnajiyah, Darul Haramain, halaman 108-110.<br />
Silakan dicopy dengan mencantumkan URL:</p>
<p><a href="http://wiramandiri.wordpress.com/2007/03/26/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/">http://wiramandiri.wordpress.com/2007/03/26/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=23&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Sih dengan Valentine?</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/ada-apa-sih-dengan-valentine/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/ada-apa-sih-dengan-valentine/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2007 06:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/ada-apa-sih-dengan-valentine/</guid>
		<description><![CDATA[
Ada Apa Sih dengan Valentine?
Sahabatku…
Setiap tanggal 14 Februari, jutaan manusia di dunia merayakan sebuah perayaan yang mereka beri nama Valentine’s Day, kamu-kamu pasti dah tau kan?. Itu lho hari yang didalamnya identik dengan kirim-kirim bunga, kartu, coklat, permen, sampai sms yang serba pink, dan yang pasti ada logo &#8220;love&#8220;-nya. Tau ga’ kalo VD itu ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=22&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="meta">
<h2>Ada Apa Sih dengan Valentine?</h2>
<p class="storycontent"><img src="http://sunnah.su.funpic.de/wp-images/heart.jpg" align="left" /><font color="#3366ff">Sahabatku…</font><br />
Setiap tanggal 14 Februari, jutaan manusia di dunia merayakan sebuah perayaan yang mereka beri nama Valentine’s Day, kamu-kamu pasti dah tau kan?. Itu lho hari yang didalamnya identik dengan kirim-kirim bunga, kartu, coklat, permen, sampai sms yang serba <font color="#ff00ff"><strong>pink</strong></font>, dan yang pasti ada logo &#8220;<font color="#ff00ff"><strong>love</strong></font>&#8220;-nya. Tau ga’ kalo VD itu ternyata bersumber dari paganisme (kaum penyembah berhala) orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar (kafir). Trus yang lebih herannya lagi ternyata VD ga’ ada kaitannya sama sekali dengan &#8220;kasih sayang&#8221;. Nggak percaya? Lantas, kok kita mesti ngerayain VD ini? Apa ini memang hari yang istimewa? Adat? Atau sekedar ikut-ikutan gaul aja tanpa ngerti asal muasalnya?</p>
<p>Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya</em>&#8221; (Al Isra’ : 36).<span id="more-22"></span></p>
<p>Before kita terjerumus pada budaya yang dapat menyebabkan kita tergelincir kepada kemaksiatan maupun penyesalan, kita kudu tau dong bahwa acara itu jelas berasal dari kaum kafir yang akidahnya berbeda dengan ummat Islam, sedangkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Radiyallahu ‘anhu : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: &#8220;<em>Kamu akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Rasulullah bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?</em>&#8221; ( HR. Bukhori dan Muslim ).</p>
<p><strong>Sohibku….</strong><br />
Untuk membedakan mana hari raya bagi umat muslim dan bukan hari raya muslim, ada baiknya kita simak dengan seksama perkataan Rasulullah sebagai panutan terbaik kita hingga akhir zaman.</p>
<p>&#8220;<em>Dari Anas Radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah sementara penduduk Madinah mempunyai dua hari yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau bersabda, ‘Allah telah menggantikan kepadamu yang lebih baik dari keduanya: Idul Adha dan Idul Fithri.</em>&#8221; (HR. Abu Dawud dan Nasai dengan sanad SHAHIH)</p>
<p><strong><u>Hukum Valentine’s Day dalam Syariat Islam </u></strong></p>
<p><strong><font color="#ff9900">Pertanyaan</font></strong><font color="#ff9900"> </font>: Sebagian orang merayakan Yaum Al-Hubb (Hari Kasih Sayang) pada tanggal 14 Februari [bulan kedua pada kalender Gregorian kristen / Masehi] setiap tahun, diantaranya dengan saling-menghadiahi bunga mawar merah. Mereka juga berdandan dengan pakaian merah (merah jambu,red), dan memberi ucapan selamat satu sama lain (berkaitan dengan hari tsb).</p>
<p>Beberapa toko-toko permen pun memproduksi manisan khusus &#8211; berwarna merah- dan yang menggambarkan simbol hati/jantung ketika itu (simbol love/cinta, red). Toko-toko pun tersebut mengiklankan yang barang-barang mereka secara khusus dikaitkan dengan hari ini. Bagaimana pandangan syariat Islam mengenai hal berikut :</p>
<p>1. Merayakan hari valentine ini ?<br />
2. Melakukan transaksi pembelian pada hari valentine ini?<br />
3. Transaksi penjualan (sementara pemilik toko tidak merayakannya) dalam berbagai hal yang dapat digunakan sebagai hadiah bagi yang sedang merayakan?<br />
Semoga Allah memberi Anda penghargaan dengan seluruh kebaikan !</p>
<p><strong><font color="#ff9900">Jawaban </font></strong>: Bukti yang jelas terang dari Al Qur’an dan Sunnah &#8211; dan ini adalah yang disepakati oleh konsensus ( Ijma’) dari ummah generasi awal muslim &#8211; menunjukkan bahwa hanya ada dua macam Ied (hari Raya) dalam Islam : ‘Ied Al-Fitr (setelah puasa Ramadhan) dan ‘Ied Al-Adha (setelah hari ‘ Arafah untuk berziarah).<br />
Maka seluruh Ied yang lainnya &#8211; <em>apakah itu adalah buatan seseorang, kelompok, peristiwa atau even lain</em> &#8211; yang diperkenalkan sebagai hari Raya / ‘Ied, tidaklah diperkenankan bagi muslimin untuk mengambil bagian didalamnya, termasuk mengadakan acara yang menunjukkan sukarianya pada even tersebut, atau membantu didalamnya &#8211; apapun bentuknya &#8211; sebab hal ini telah melampaui batas-batas syari’ah Allah:</p>
<p><em>Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri</em>. [ Surah At-Thalaq ayat 1]</p>
<p>Jika kita menambah-nambah Ied (hari raya) yang telah ditetapkan, sementara faktanya bahwa hari raya ini merupakan hari raya orang kafir, maka yang demikian termasuk berdosa. Disebabkan perayaan Ied tersebut meniru-niru (tasyabbuh) dengan perilaku orang-orang kafir dan merupakan jenis Muwaalaat (Loyalitas) kepada mereka. Dan Allah telah melarang untuk meniru-niru perilaku orang kafir tersebut dan termasuk memiliki kecintaan, kesetiaan kepada mereka, yang termaktub dalam kitab Dzat yang Maha Perkasa (Al Qur’an). Ini juga ketetapan dari Nabi (Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) bahwa beliau bersabda :</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut</em>&#8220;.</p>
<p><strong>Ied al-Hubb</strong> (perayaan <strong><font color="#ff00ff">Valentine’s Day</font></strong>) datangnya dari kalangan apa yang telah disebutkan, termasuk salah satu hari besar / hari libur dari kaum paganis Kristen. Karenanya, diharamkan untuk siapapun dari kalangan muslimin, yang dia mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, untuk mengambil bagian di dalamnya, termasuk memberi ucapan selamat (kepada seseorang pada saat itu). Sebaliknya, adalah wajib untuknya menjauhi dari perayaan tersebut &#8211; sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga jarak dirinya dari kemarahan Allah dan hukumanNya.</p>
<p>Lebih-lebih lagi, hal itu terlarang untuk seorang muslim untuk membantu atau menolong dalam perayaan ini, atau perayaan apapun juga yang termasuk terlarang, baik berupa makanan atau minuman, jual atau beli, produksi, ucapan terima kasih, surat-menyurat, pengumuman, dan lain lain. Semua hal ini dikaitkan sebagai bentuk tolong-menolong dalam dosa serta pelanggaran, juga sebagai bentuk pengingkaran atas Allah dan Rasulullah. Allah, Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi, berfirman:</p>
<p><em>Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.</em> [Surah al-Maa.idah, Ayat 2]</p>
<p>Demikian juga, termasuk kewajiban bagi tiap-tiap muslim untuk memegang teguh atas Al Qur’an dan Sunnah dalam seluruh kondisi &#8211; terutama saat terjadi rayuan dan godaan kejelekan. Maka semoga dia memahami dan sadar dari akibat turutnya dia dalam barisan sesat tersebut yang Allah murka padanya (Yahudi) dan atas mereka yang tersesat (Kristen), serta orang-orang yang mengikuti hawa nafsu diantara mereka, yang tidak punya rasa takut &#8211; maupun harapan dan pahala &#8211; dari Allah, dan atas siapa-siapa yang memberi perhatian sama sekali atas Islam.</p>
<p>Maka hal ini sangat penting bagi muslim untuk bersegera kembali ke jalan Allah, yang Maha Tinggi, mengharap dan memohon Hidayah Nya (Bimbingan) dan Tsabbat (Keteguhan) atas jalanNya. Dan sungguh, tidak ada pemberi petunjuk kecuali Allah, dan tak seorangpun yang dapat menganugrahkan keteguhan kecuali dariNya.</p>
<p>Dan kepada Allah lah segala kesuksesan dan semoga Allah memberikan sholawat dan salam atas Nabi kita ( Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) beserta keluarganya dan rekannya.</p>
<p align="center">(Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah lil-Buhuts al-’Ilmiyyah Wal-Iftaa.- Fatwa Nomor 21203. Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia)</p>
<p align="center"><strong>www.fatwa-online.com/fataawa/innovations/celebrations/cel003/0020123_1.htm.</strong></p>
<p><strong>Sahabatku…</strong> (Semoga Allah menjagamu !)<br />
Diatas dah dijelasin tentang pandangan Islam terhadap VD. Dibawah ini akan dijelaskan lagi tentang asal muasal VD itu sendiri, biar sohibku pada tau kalo ternyata VD itu emang bukan dari Islam dan tentunya sebagai generasi muslim kita nggak pantas untuk merayakannya.</p>
<p><strong><font size="2"><u>History Of <font color="#ff00ff">Valentine’s Day</font></u></font></strong></p>
<p>Udah pada tau belum tentang asal muasal dirayakannya hari kasih sayang ini? Dalam The World Book Encyclopedia (1998) ada buanyak versi tentang asal usul VD ini. Kita mulai aja ya !</p>
<p>Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang trus para wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur (Apa hubungannya lecutan dengan kesuburan?, kurang kerjaan aja! &#8211; red)</p>
<p>Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).</p>
<p>The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa &#8220;St. Valentine&#8221; termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.</p>
<p><font color="#ff9900"><strong>Versi pertama</strong></font> mengisahkan bahwa Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. <strong><font color="#ff0000">Maha Tinggi Allah</font> dari apa yang mereka persekutukan</strong>. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.</p>
<p><strong><font color="#ff9900">Versi kedua</font></strong> menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).</p>
<p>Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).</p>
<p>Trus gimana dengan ucapan &#8220;<strong><font color="#ff00ff" size="2">Be My Valentine?</font></strong>&#8221; Ken Sweiger dalam artikel &#8220;<strong><em>Should Biblical Christians Observe It?</em></strong>&#8221; (www.kornet.org) mengatakan kata &#8220;<strong><font color="#ff00ff">Valentine</font></strong>&#8221; berasal dari Latin yang berarti : &#8220;Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa&#8221;. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi &#8220;<font color="#ff00ff"><strong>to be my Valentine</strong></font>&#8220;, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi &#8220;Sang Maha Kuasa&#8221;) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod &#8220;the hunter&#8221; dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!. Layaknya seorang muslim segera bertaubat mengucap istighfar, &#8220;<strong>Astaghfirullah</strong>&#8220;, <strong>wa naudzubillahi min dzalik</strong>.</p>
<p>Diatas dah dijelasin tentang pandangan Islam terhadap VD ini, trus sejarahnya juga sudah, nah sekarang yang belum adalah gimana kalau ada seorang saudara atau teman kita yang mengatakan &#8220;Aku sih nggak nggak niat ngikutin keyakinan mereka, tapi VD ini kan moment terpenting untuk ngungkapin rasa cintaku kepada orang lain&#8221;.</p>
<p><strong><font color="#ff9900">Sohibku! </font></strong><br />
Hal itu adalah suatu kelalaian, padahal ini kan perayaan ritual agama lain! Emang sih kalo hadiah yang saudaraku diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Dengan semakin seringnya kita mengikuti budaya mereka, maka ketika itu pula agama kita akan hancur dikit demi sedikit.</p>
<p>Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.</p>
<p>Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. <strong>Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst</strong>, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir. Bukankah kasih sayang dan cinta itu diberikan secara terus menerus? Trus cinta dan kasih sayang apa yang dapat diberikan kalo harus nunggu 1 tahun?</p>
<p>Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Dan semoga kita dapat menanamkan prinsip Al Wala’ wal Bara’ (Kecintaan dan Kebencian karena Allah), karena dengan itulah maka kita akan dapat dikumpulkan bersama dengan orang yang kita cintai yang mereka pun juga cinta kepada Allah di syurga nanti, InsyaAllah.</p>
<p>Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya. Oleh karena itu, bagi sohibku yang udah paham akan VD ini, please yah untuk nerangin ke sohib muslim lain (keluarga, temen, de el el) yang belum tau agar mereka bisa paham tentang VD, dan kalau emang udah terlambat, ya minimal nggak terjerumus lagi dengan VD ini pada tahun berikutnya.</p>
<p>Semoga Allah subhaanahu wata’ala membalas amal ibadah kita.</p>
<p><strong>Maraji’ : www.salafy.or.id</strong></p>
<p>:: Dikirim oleh Administrator ::</p></div>
<p>&#8211;&gt;</p>
<p class="feedback">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=22&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/29/ada-apa-sih-dengan-valentine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sunnah.su.funpic.de/wp-images/heart.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Siapakah Ahlu Sunnah ?</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/siapakah-ahlu-sunnah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/siapakah-ahlu-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 06:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/siapakah-ahlu-sunnah/</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah Ahlu Sunnah ?
Penulis : Al Ustadz Abu  Usamah bin Rawiyah An Nawawi


Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka  semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa  pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?
Telah  menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=19&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 align="center">Siapakah Ahlu Sunnah ?</h2>
<p>Penulis : <strong>Al Ustadz Abu  Usamah bin Rawiyah An Nawawi</strong><br />
<strong><br />
</strong></p>
<p>Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka  semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa  pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?</p>
<p>Telah  menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya  mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa  menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus  dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik  kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka  dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi  mereka.<span id="more-19"></span></p>
<p>Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan  tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya  mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis  mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah  menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang  lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang,  dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )</p>
<p>Dalam  upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu  adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu  yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan  kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)</p>
<p>Demikian halnya  yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat  pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang  berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin  juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah  menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah  sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?</p>
<p>Menjawab  pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah  Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka  yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang  digambarkan dalam sebuah sya’ir:<br />
Semua mengaku telah meraih tangan Laila<br />
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu</p>
<p>Bahwa tidak ada maknanya  kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.</p>
<p>Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan  tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya,  tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa  Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama  tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan  memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik  kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau  pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan  memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian  itu adalah yang melek dari mereka.</p>
<p>As Sunnah<br />
Berbicara tentang As  Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk  mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui  sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu  sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan  ahli fiqih.</p>
<p>As Sunnah menurut bahasa<br />
As Sunnah menurut bahasa adalah  As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al  Hudzali berkata:<br />
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu  tempuh<br />
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.</p>
<p>As  Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama<br />
Apabila terdapat kata  sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka  yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik  yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya  wajib, sunnah atau boleh.</p>
<p>Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari  10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits  Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila  dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa,  pent.).”</p>
<p>Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau  mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku  yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian  dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah,  dan sebagainya.”<br />
Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187,  ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut  disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”</p>
<p>Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata  “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu:  “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah.  Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang  menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak  dalam kesalahan yang fatal.</p>
<p>As Sunnah Menurut Ahli Hadits<br />
As sunnah  menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang  diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan  sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).</p>
<p>As Sunnah  Menurut Ahli Ushul Fiqih<br />
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar  dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.<br />
Al Amidy dalam  kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari  dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam  katagori mu’jizat”.</p>
<p>As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih<br />
As Sunnah di sisi  mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila  tidak dikerjakan tidak berdosa.</p>
<p>Di sini bisa dilihat, mereka yang  mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak  memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas  simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi  pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli  fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka  memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika  mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk  mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan  sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau  mengharamkannya.</p>
<p>Siapakah Ahlus Sunnah</p>
<p>Ahlu Sunnah memiliki  ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat  mereka.</p>
<p>1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan  jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan  pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan  shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:<br />
“  Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka  kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)</p>
<p>2.  Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka  kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan  oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:<br />
“Maka jika kalian berselisih dalam  satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman  kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik  akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)<br />
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat  apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi  mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah  dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al  Ahzab: 36)</p>
<p>3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan  selain keduanya. Firman Allah:<br />
“Hai orang-orang yang beriman janganlah  kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan  Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi  Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)</p>
<p>4. Menghidupkan sunnah Rasulullah  baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan,  sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang  mereka:<br />
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula  daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim  dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)</p>
<p>5. Mereka  adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka  tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik  mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil  dan ditolak kecuali ucapan beliau.”</p>
<p>6. Mereka adalah orang-orang yang  menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah  para shahabatnya.</p>
<p>7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar  ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan  mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok  yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.</p>
<p>8. Mereka adalah  orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang  menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.</p>
<p>9. Mereka adalah  orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama  menghendaki yang demikian itu.</p>
<p>Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu  Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj  (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah  dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan  keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah,  mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang  kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang  diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi  wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh  semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang  melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas,  kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang  selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti  Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan  setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada  setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang  yang mencerca.”</p>
<p>Ciri Khas Mereka<br />
1. Mereka adalah umat yang baik dan  jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala  sisi. Rasulullah bersabda:<br />
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka  adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang  yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih,  HR. Ahmad)</p>
<p>Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200,  berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama  mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya  manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak  keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing  pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya  dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka  dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.</p>
<p>Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia  tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu  ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru  kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu  dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah  kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”</p>
<p>Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal  16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang  telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian  mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah,  dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada  yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang  disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari  umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu  memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai  datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”</p>
<p>2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing  yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika  rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak  oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan  membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di  tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali  satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana  permulaan Islam.</p>
<p>Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini.  Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing  dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan  tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri  melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji  sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata  sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)</p>
<p>Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan  hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:<br />
“Dan sedikit  dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”</p>
<p>Dari pembahasan yang singkat ini,  jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang  bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair  mengatakan :<br />
Semua orang mengaku telah menggapai si Laila<br />
Akan tetapi si  Laila tidak mengakuinya<br />
Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang  mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus  shalih. (Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawa, judul  asli SIAPAKAH AHLUS SUNNAH?. Url sumber  http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=23)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=19&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/siapakah-ahlu-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh perusak keislaman kita (II)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita-ii/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 03:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati dari sepuluh perusak keislaman kita (II)
Penulis : Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab Al-Washobi
Kelima, orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi  wasallam. Kendati dia tetap mengamalkannya. Maka, orang ini dihukumi kafir.
“Dan  orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus  amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=8&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 align="center">Hati-hati dari sepuluh perusak keislaman kita (II)</h2>
<p>Penulis : <strong>Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab Al-Washobi</strong><br />
Kelima, orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi  wasallam. Kendati dia tetap mengamalkannya. Maka, orang ini dihukumi kafir.<br />
“Dan  orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus  amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci  kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur&#8217;an) lalu Allah menghapuskan  (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad:8-9)</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada  kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan  mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian  itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada  orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi):  &#8220;Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan&#8221;, sedang Allah mengetahui rahasia  mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa  mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah  karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan  (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah  menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 25-28)<span id="more-8"></span></p>
<p>Keenam, orang  yang memperolok-olok Allah atau Rasul-Nya, Al-Qur`an, agama Islam, malaikat, dan  para ulama yakni ilmu yang dihasung ulama tersebut. Atau, memperolok-olok salah  satu syiar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di  Arafah, masjid, azan, jenggot, sunnah-sunnah Nabi, dan lain-lain dari  syiar-syiar Allah dan kesucian Islam, maka orang yang semacam ini dihukumi  kafir.</p>
<p>“Dan jika  kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah  mereka akan menjawab: &#8220;Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan  bermain-main saja&#8221;. Katakanlah: &#8220;Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan  Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?&#8221; Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu  kafir sesudah beriman. Jika Kami mema`afkan segolongan daripada kamu (lantaran  mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan  mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah  :65,66)</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang  dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila  orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling  mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada  kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang  mu&#8217;min, mereka mengatakan: &#8220;Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang  sesat&#8221;, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi  orang-orang mu&#8217;min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan  orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.  Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu  mereka kerjakan.” (Muthaffifin:29-36)</p>
<p>“Dan apabila kamu melihat orang-orang  memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka  membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan  larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu  sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am :68)</p>
<p>“Dan sungguh Allah telah  menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur&#8217;an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat  Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah  kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.  Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan  mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan  orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’ :140)</p>
<p>“Demikianlah (perintah Allah).  Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu  adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua  binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka  jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan  dusta.”(Al-Hajj :30)</p>
<p>“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa  mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan  hati.” (Al-Hajj :32)</p>
<p>Ketujuh, sihir. Di antaranya ialah ash-sharf dan  al-‘athf. Adapun ash-sharf ialah praktik sihir yang bertujuan mengubah hasrat  dan keinginan manusia, seperti memalingkan kecintaan seorang suami kepada  istrinya, dan sebaliknya. Adapun al-athf ialah praktik sihir yang dapat membuat  orang menjadi cenderung mencintai sesuatu yang tadinya biasa-biasa saja dengan  cara-cara syaitan.</p>
<p>“Dan mereka mengikuti  apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka  mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir  (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan  sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada  dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak  mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami  hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir&#8221;. Maka mereka mempelajari  dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan  antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak  memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah.  Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi  manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang  menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di  akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau  mereka mengetahui.” (Al-Baqarah : 102)</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud  Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah (Penangkal pada anak-anak untuk menolak  penyakit ‘ain atau bala, red), dan thiwalah (Semacam jimat supaya suami cinta  istri atau sebaliknya , red) itu syirik.” (Riwayat Abu Dawud No.3883, dihasankan  Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad II/17-18, dishahihkan Syaikh Al-Albani  dalam Shahihul Jami’ No.1632 dan di dalam Silsilah Ash-Shahihah No.331, dan  dishahihkan Imam Hakim IV/217 dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, juga  diriwayatkan Ibnu Majah No.3530, Thabrani dalam Al-Kabir X/262, Ibnu Hibban  XIII/456, Al-Baihaqi IX/350)</p>
<p>Kedelapan, membantu orang-orang kafir  memerangi kaum muslimin.<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil  orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka  adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil  mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”  (Al-Maidah : 51)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti  sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan  mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu  (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan  Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh  kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan  yang lurus.”<br />
(Ali Imran : 100,101)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati  orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang  (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah  Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran :  149-150)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil  musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka  (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka  telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan  (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar  keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu  berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad)  kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu  sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang  melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.  (Mumtahanah : 1-2)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka  telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah  berada dalam kubur berputus asa.” (Mumtahanah : 13)</p>
<p>Kesembilan, orang  yang meyakini bahwa ada manusia yang boleh keluar dari syariat Muhammad  sebagaimana bolehnya Khidir keluar dari syariatnya Musa AS maka orang yang  semacamn ini pu dihukumi kafir. Karena menurutnya, Nabi itu diutus pada suatu  kaum tertentu, dan setiap orang tidak mwajib mengikutinya.</p>
<p>Adapun nabi  kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutuskan kepada sluruh umat Manusia,  sehingga tidak dihalalkan bagvi siapapun menyelisihi beliau ataupun keluar dari  syariat beliau.</p>
<p>“Katakanlah: &#8220;Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan  Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak  ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan,  maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman  kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia,  supaya kamu mendapat petunjuk&#8221;. (Al-A’raf :158)</p>
<p>“Dan tiadalah Kami mengutus kamu,  melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.“  (Al-Anbiya’:107)</p>
<p>“Maha Suci Allah yang telah menurunkan  Al-Furqaan (Al Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan  kepada seluruh alam” (Al-Furqan:1)</p>
<p>“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia  seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi  kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (As-Saba:28)</p>
<p>Dari Jabir bin  Abdillah Al-Anshari Radiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Aku diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada  seorang rasul pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang dialami musuh  sejauh perjalanan selama satu bulan, dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud  dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaklah dia  shalat, dan dihalalkan bagiku ghanimah yang tidak dihalalkan bagi seorang pun  sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan adalah para nabi itu diutus kepada  kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Bukhari 328, Muslim  521)</p>
<p>“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah  Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah  datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.  Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat  cepat hisab-Nya.” (Ali Imran :19)</p>
<p>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali  tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk  orang-orang yang rugi. [QS Aali 'Imroon: 85]</p>
<p>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [QS Al  Maaidah: 3]</p>
<p>[83] Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah,  padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik  dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [QS  Aali 'Imroon: 83]</p>
<p>Dan di dalam hadits:”Demi Allah seadainya Musa AS itu  hidup niscaya dia mengikutiku.” (dihasankan Al-Albani Al Irwaul Ghalil II/34  no.1589, dan beliau menyebutkan delapan jalan dan Ibnu Katsir juga  menyebutkannya dalam tafsir ayat 81-82 dari surat Ali Imran, II/78, edisi revisi  dan diha’ifkan Syaikh Muqbil dalam Hdazal Maudhi’.</p>
<p>Kesepuluh, berpaling  dari agama Allah Ta’ala. Tidak mau mempelajari dan mengamalkannya: berpaling  dari pokok-pokok agama ini, yang menjadikan seseorang itu muslim meskipun dia  jahil dalam masalah-masalah agama yang rinci. Karena mengetahui tentang masalah  agama yang rinci itu, terkadang tidak bisa dilakukan kecuali oleh ulama dan  penuntut ilmu.<br />
(Surat-surat lain yang mendukung masalah ini) :</p>
<p>Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya  melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan  orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al  Ahqaf : 3)</p>
<p>Dan siapakah yang  lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya,  kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan  kepada orang-orang yang berdosa. (Sajadah: 22)</p>
<p>Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya  baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat  dalam keadaan buta&#8221;. (Thaha:124)</p>
<p>Demikianlah Kami  kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan  sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al  Qur&#8217;an). [100] Barangsiapa berpaling daripada Al Qur&#8217;an maka sesungguhnya ia  akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, [101] mereka kekal di dalam keadaan  itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.  (Thaha:99-101). /**</p>
<p>(Diterjemahkan oleh al akh Luqman Yazid edisi Bahasa  Indonesia SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN, judul asli Al-Qaulul Mufid fi Adillati  At-Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi Al-Yamani, Ulama  Ahlusunnah era ini dari Yaman, dikirimkan al Akh Khudori, Malang)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=8&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh perusak keislaman kita (I)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 02:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati dari sepuluh perusak keislaman kita (I)
Penulis : Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab Al-Wash
Salah seorang ulama Ahlus Sunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab Al-Washabi, menulis dalam kitab beliau yang ringkas “Al-Qaulul Mufid fi  Adillati At-Tauhid,” sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman  seseorang. Tidak seperti batalnya jenis-jenis ibadah lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=7&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 align="center">Hati-hati dari sepuluh perusak keislaman kita (I)</h2>
<p>Penulis : <strong>Syaikh Muhammad  bin Abdul Wahhab Al-Wash</strong><br />
Salah seorang ulama Ahlus Sunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab Al-Washabi, menulis dalam kitab beliau yang ringkas “Al-Qaulul Mufid fi  Adillati At-Tauhid,” sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman  seseorang. Tidak seperti batalnya jenis-jenis ibadah lain di dalam Islam yang  tidak mengeluarkan seseorang dari agama, batalnya keislaman berakibat fatal  kepada pelakunya di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Sepuluh Pembatal Keislaman itu  ialah:<br />
1. Syirik<br />
2. Murtad<br />
3. Tidak mengkafirkan orang kafir<br />
4.  Meyakini kebenaran hukum thaghut<br />
5. Membenci sunnah Rasul, meskipun<br />
diamalkan<br />
6. Mengolok-ngolok agama<br />
7. Sihir<br />
8. Menolong orang kafir  untuk memerangi<br />
kaum muslimin<br />
9. Meyakini bolehnya keluar dari syariat  Allah<br />
10.Tidak mau mempelajari dan mengamalkan<br />
agama<span id="more-7"></span></p>
<p>Mari kita  jadikan tulisan beliau sebagai bahan koreksi bagi kita semua, jangan sampai  gara-gara kebodohan dan kelalaian kita selama ini keislaman kita sudah tidak  lagi diakui Allah Ta’ala. Berikut adalah tulisan beliau yang sudah diringkas.  (redaksi).</p>
<p>Pertama, Syirik kepada Allah, yaitu menjadikan perantara  (sekutu) antara si hamba dengan Allah. Si hamba berdoa kepada para perantara  ini, meminta syafa’at, bertawakkal, beristighatsah kepada mereka, bernazar untuk  mereka, dan menyembelih kurban dengan menyebut nama mereka. Si hamba  berkeyakinan segala perbuatannya tersebut dapat menolak mudharat atau  mendatangkan manfaat. Orang yang semacam ini telah kafir.</p>
<p>Berfirman  Allah Subhanahu wa Ta’ala,<br />
“Sesungguhnya Allah tidak  akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari  (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(An-Nisa: 48)</p>
<p>Dan firman  Allah :<br />
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti  Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada  bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.&#8221; (Al Maidah: 72)<br />
Kedua,  murtad dari Islam. Masuk dan memeluk agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunisme,  Ba’tsi, paham sekuler, Freemasonry, dan faham-faham kufur lainnya.</p>
<p>Allah  berfirman :<br />
“Mereka tidak  henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari  agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad  di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah  yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni  neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah, 217)</p>
<p>Allah Ta’ala  berfirman :<br />
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa  di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan  suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang  bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu&#8217;min, yang bersikap keras terhadap  orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada  celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa  yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha  Mengetahui..” (Al Maidah: 54)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada  kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan  mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian  itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada  orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi):  &#8220;Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan&#8221;, sedang Allah mengetahui rahasia  mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa  mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah  karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan  (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah  menghapus (pahala) amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit  dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan  kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu  benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar  akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui  perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad, 25-30)</p>
<p>Dan Allah berfirman,<br />
“Pada hari ini dihalalkan bagimu  yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal  bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)  wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan  wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab  sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud  menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya  gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima  hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk  orang-orang merugi.” (Al Maidah ayat 5).</p>
<p>Dari Ibnu Abbas Rahuma katanya:  “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengubah  agamanya, maka bunuhlah dia!’”(Riwayat Bukhari, No. 2854)</p>
<p>Dari Abdullah  bin Mas’ud RA, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:  ‘Tidak halal (menumpahkan darah seorang muslim) yang bersaksi bahwa tidak ada  yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bersaksi pula bahwa aku  adalah utusan Allah, kecuali dengan tiga perkara: orang sudah menikah tapi  berzina, orang yang membunuh jiwa (tanpa hak), dan orang yang meninggalkan agama  dan memisahkan diri dari jamaah.” (Bukhari 6484, Muslim 1674)</p>
<p>Ketiga,  tidak mengkafirkan orang yang jelas-jelas kafir. Baik itu Yahudi, Nasrani  (Kristen/Katolik), Majusi, Musyrik, Atheis, atau lainnya dari jenis bentuk  kekufuran. Atau, meragukan kekafiran mereka, membenarkan mazhab dan pemikiran  mereka. Yang demikian ini juga dihukumi kafir. Allah sendiri telah mengkafirkan,  namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan  ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, tidak mengkafirkan orang yang  dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan  artinya berpaling dari keputusan Allah.</p>
<p>Allah berfirman :<br />
“Sesungguhnya  orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke  neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk  makhluk.” (Al-Bayyinah:6)</p>
<p>Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi  dan Nasrani. Sedangkan yang dimaksud dengan musyrikin ialah orang yang menyembah  Allah sekaligus menyembah sesembahan yang lain.</p>
<p>Allah berfirman  :<br />
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang  berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam&#8221;. Katakanlah:  &#8220;Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia  hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh  orang-orang yang berada di bumi semuanya?&#8221; Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit  dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang  dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)</p>
<p>“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah  adalah Al Masih putera Maryam&#8221;, padahal Al Masih (sendiri) berkata: &#8220;Hai Bani  Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu&#8221; Sesungguhnya orang yang  mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya  surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu  seorang penolongpun.” (Al-Maidah : 72)</p>
<p>Allah berfirman<br />
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang  mengatakan: &#8220;Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga&#8221;, padahal sekali-kali  tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak  berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di  antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73).</p>
<p>Allah  berfirman<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan  rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan  rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada yang sebahagian dan  kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)&#8221;, serta bermaksud (dengan perkataan  itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),  merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk  orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa:  150-151)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
“Dan sungguh Allah telah  menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur&#8217;an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat  Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah  kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.  Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan  mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan  orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’:140)</p>
<p>Keempat, orang yang  meyakini bahwa petunjuk selain Nabi lebih sempurna daripada petunjuk beliau.  Atau, meyakini bahwa hukum selain hukumnya lebih baik. Seperti orang-orang yang  lebih mengutamakan hukum thagut daripada hukum-hukum-Nya. Termasuk ke dalamnya  orang yang beryakinan bahwa aturan dan perundangan yang dibuat oleh manusia  lebih utama daripada syariat Islam. Atau, meyakini bahwa hukum-hukum Islam tidak  layak diterapkan pada masa sekarang. Atau, meyakini bahwa Islam merupakan  penyebab kemunduran kaum muslimin.</p>
<p>Atau, meyakini bahwa Islam itu sebatas  hubungan seorang hamba dengan tuhannya, dan tidak mencakup perkara-perkara  kehidupan lainnya.</p>
<p>Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang  berpandangan bahwa pelaksanaan hukum Allah dalam masalah memotong tangan  pencuri, atau merajam pelaku zina muhshan (yang sudah pernah nikah, red), tidak  relevan dengan kondisi sekarang.</p>
<p>Juga termasuk ke dalamnya orang yang  meyakini bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah dalam muamalah, penerapan  hukum pidana, dan yang lainnya. Meskipun dia tidak meyakini bahwa hal itu lebih  baik daripada hukum yang ditetapkan oleh syariat Islam. Lantaran dengan begitu  dia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dan setiap orang yang  menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari perkara-perkara agama  yang sudah pasti secara ijma’ seperti zina, riba, khamr, dan berhukum dengan  selain syariat Allah maka dia itu kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
“Apakah hukum Jahiliyah  yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)  Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah : 50)<br />
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di  dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu  diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada  Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan  mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi  terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah  kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.  Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka  itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 44)</p>
<p>“Dan kami  telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas)  dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga,  gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan  (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.  Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka  mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah :45)</p>
<p>“Dan hendaklah  orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah  di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan  Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah :  47)</p>
<p>“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah  Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah  datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.  Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat  cepat hisab-Nya.” (Ali Imran : 19)</p>
<p>“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka  sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat  termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat  Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka  hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan  azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran :  56)</p>
<p>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya)  tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka  perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap  putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”<br />
(An Nisaa  :65). /**</p>
<p>Bersambung ke artikel Hati-hati dari sepuluh perusak keislaman  kita (II).</p>
<p>(Diterjemahkan oleh al akh Luqman Yazid edisi Bahasa Indonesia  SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN, judul asli Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid,  karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi Al-Yamani, Ulama Ahlusunnah  era ini dari Yaman, dikirimkan al Akh Khudori, Malang)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=7&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/sepuluh-perusak-keislaman-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid inti Dakwah</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/tauhid-inti-dakwah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/tauhid-inti-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 02:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/tauhid-inti-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid, inti Dakwah para Rasul
Penulis : Ustadz Abu Hamzah  Yusuf
“Dan sesungguhnya telah Kami utus seorang rasul pada setiap ummat agar mereka  menyeru, Beribadahlah kalian semua kepada Allah dan jauhilah thaghut”. (An-Nahl  : 36).
“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad),  kecuali telah Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada ilah (sesembahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=6&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 align="center">Tauhid, inti Dakwah para Rasul</h2>
<p>Penulis : <strong>Ustadz Abu Hamzah  Yusuf</strong><br />
“Dan sesungguhnya telah Kami utus seorang rasul pada setiap ummat agar mereka  menyeru, Beribadahlah kalian semua kepada Allah dan jauhilah thaghut”. (An-Nahl  : 36).</p>
<p>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad),  kecuali telah Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada ilah (sesembahan  yang benar) kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya : 25).</p>
<p>Telah  lewat jaman para Rasul, dan telah turun syariat mereka untuk kaum-kaum mereka.  Begitu pula telah ditetapkan inti ajaran dan dakwah dari Rasul kita, yaitu  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.</p>
<p>Para rasul adalah orang-orang yang  terpilih untuk menyampaikan risalah yang agung ini. Tidaklah Allah Ta’ala  mengutus dan memberikan amanah ini kepada seseorang kecuali pasti dan pasti  Allah Ta’ala mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Allah ‘Azza wa Jalla juga  tidak akan menciptakan manusia begitu saja, ditelantarkan dan dibiarkan hidup  tanpa tujuan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Apakah manusia mengira  bahwa mereka ditelantarkan dan didiamkan saja “ (Al-Qiyamah : 36). Imam Syafi’i  menafsirkan ayat ini, “Tidak dilarang dan tidak diperintah “ (Fathul Majid Syarh  Kitabut Tauhid Muhammad Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh)<span id="more-6"></span></p>
<p>Akan tetapi Allah berfirman : “Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia  kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat : 56)</p>
<p>Setelah kita  dapat mengetahui tujuan Allah menciptakan kita, maka akan jelaslah apa tujuan  dakwah para rasul bagi setiap umatnya, karena yang menjadi tujuan Allah pastilah  juga menjadi tujuan para utusan-Nya. Tujuan dakwah para rasul tidak lain adalah  makna dari ayat yang telah tertulis di awal risalah ini (An-Nahl : 36).</p>
<p>Adapun makna dari ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh  berkata, “Sesungguhnya Dia telah mengutus seorang rasul kepada setiap kelompok  manusia dengan kalimat yang tinggi, “Beribadahlah kalian kepada Allah dan  jauhilah thaghut”, yang artinya adalah beribadahlah kalian hanya kepada Allah  semata dan tinggalkan peribadatan kepada selain-Nya.”</p>
<p>Adapun makna  Thaghut, Ibnul Qayyim berkata, “Thaghut adalah suatu keadaan yang melebihi  batasan-batasan seorang hamba, seperti diibadahi, diikuti atau ditaaati (dalam  hal yang melanggar syariat).”<br />
Maka Ibnul Qayyim membagi macam-macam thaghut  pada setiap kaum, yaitu :<br />
1. Orang yang berhukum selain dari hukum Allah dan  rasul-Nya (al-Qur’an dan as-Sunnah).<br />
2. Orang yang diibadahi selain Allah dan  dia ridlo.<br />
3. Orang yang diikuti, tetapi dia tidak berada di atas bashirah  (ilmu) dari Allah dan diapun ridlo.<br />
4. Orang yang ditaati dalam  perkara-perkara yang dalam perkara-perkara tersebut hanya Allah-lah yang pantas  untuk ditaati dan diapun dalam keadaan ridlo. (Fathul Majid Syarh Kitabut  Tauhid)</p>
<p>Sungguh para rasul yang telah diutus sangat memperhatikan ilmu  tauhid ini. Dapat dilihat dari sejarah Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi  wassalam, beliau selama tigabelas tahun mendakwahkan tauhid dan aqidah di  Makkah, baru kemudian ilmu yang lainnya di Madinah.</p>
<p>Perjalanan  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ini menunjukkan betapa besarnya perkara  tauhid ini. Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, “Dan perkara  yang paling agung, yang Allah perintahkan adalah Tauhid yang artinya mengesakan  Allah dalam beribadah, sedangkan larangan yang paling besar adalah Syirik yang  artinya beribadah kepada Allah tetapi disertai juga beribadah kepada  selain-Nya.” (Syarh Tsalatsatul Ushul Muhammad at-Tamimi, Syaikh Muhammad Shalih  Al-Utsaimin).</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya : “Beribadahlah  hanya kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”  (An-Nisa : 36)</p>
<p>Ibnul Qayyim pun berkata, “Barangsiapa yang ingin  meninggikan bangunannya, maka wajib bagi dia untuk memperkuat pondasinya, karena  tingginya bangunan itu ditentukan oleh kekuatan pondasinya. Amal shalih  merupakan cermin dari bangunan dan keimananlah (tauhid) sebagai pondasinya.</p>
<p>Tentu seorang yang bijaksana akan memperhatikan secara khusus pada  pondasinya dan berusaha untuk memantapkannya, akan tetapi orang yang bodoh akan  berusaha untuk meninggikan bangunannya, maka tidak berapa lama bangunannya pasti  akan runtuh.” (Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar : 13, Syaikh Abdul Malik Ahmad  Ar-Ramadhany)</p>
<p>Perkataan Ibnul Qayyim ini merupakan perkataan yang sangat  indah. Perkataan yang menggambarkan betapa pentingnya tauhid untuk mendapatkan  keutamaan di sisi Allah jalla jalaluh. Dengan tauhid maka akan menimbulkan  keyakinan di hati seorang hamba dan akan melaksanakan syariat ini dengan  sungguh-sungguh, dia tidak akan goyah dari hembusan-hembusan orang disekitarnya  yang akan melencengkan dia dari jalan yang lurus. Jika ada suatu hal yang  mencocoki syariat, maka akan dipegang erat-erat, jika tidak, maka akan dijauhi  sejauh-jauhnya. Itulah hasil yang didapat dari pondasi yang kuat atau tauhid  yang mantap.</p>
<p>Akan tetapi sungguh telah banyak manusia yang  melalaikannya, bahkan dari orang-orang yang ditokohkan banyak yang mengatakan,  “Untuk memajukan umat ini kita harus memperhatikan permasalahan ekonomi,  teknologi, dan sosial serta politik agar tidak tertinggal dari peradaban barat  yang sangat maju, dan hanya permasalahan inilah yang menjadi titik tumpu bagi  kemajuan bangsa-bangsa barat”.</p>
<p>Subhanallah !!! Maka tidak heran jika  mereka, yaitu orang-orang yang ditokohkan, berbicara di atas panggung, maka  mereka akan mengambil tema “Teknologi Islam”, “Ekonomi Islam”, dan  mengenyampingkan permasalahan tauhid.</p>
<p>Jika ada yang mengambil tema  “Tauhid yang benar”, “Aqidah yang lurus”, “Keutamaan Tauhid”, maka ini semua  dianggap kuno dan ketinggalan jaman, padahal untuk mendapatkan yang mereka  idamkan diperlukan kekokohan pondasi yaitu kekuatan tauhid dengan pengamalannya  yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, jika tidak, maka, demi Allah,  hancurlah bangunan mereka.</p>
<p>Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :  “Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman lagi beramal shalih  diantara kalian untuk menjadikan mereka pemimpin-pemimpin di bumi ini,  sebagaimana Allah telah jadikan pendahulu kalian sebagai pemimpin, dan sungguh  Allah akan menetapkan agama yang diridloi-Nya untuk mereka, dan sungguh Allah  akan menggantikan rasa takut menjadi rasa aman bagi mereka. Yang demikian itu  akan didapatkan manakala kalian menyembah-Ku dan tidak berbuat syirik dengan  sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang kufur setelah itu, maka mereka itulah  orang-orang yang fasiq.” (An-Nur : 55). Ayat di atas menjelaskan kepada kita,  bahwa akan tercapainya kepemimpinan di muka bumi, ketetapan agama dan ketenangan  hidup adalah hanya dengan mengamalkan tauhid, yaitu hanya beribadah kepada-Nya,  dan meninggalkan syirik, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun  dalam beribadah kepada-Nya. Ini adalah janji Allah, yang Allah tidak akan  menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi jika kita mengingkari hal tersebut,  melaksanakan tauhid dan meninggalkan syirik, maka Allah Ta’ala akan memasukkan  kita ke dalam golongan orang-orang fasiq.</p>
<p>Dengan semua  penjelasan-penjelasan di atas, lalu bagaimanakah kita ? Apa yang akan kita  utamakan setelah ini, tauhid atau yang lainnya ? Dengan apakah kita akan  mendapatkan kejayaan, dengan tauhid atau dengan yang lain ? Sungguh jawabannya  hanya berkisar pada satu titik, yaitu inti dari dakwah para rasul, yaitu  mengetahui dan mengamalkan tauhid dan meninggalkan syirik. Semoga Allah  memasukkan kita ke dalam golongan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) dan  bukan musyrikin. Amiin ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu A&#8217;lamu Bish shawab.<br />
Rujukan : Kitab Tauhid</p>
<p>(Dikutip dari tulisan al Ustadz Abu Hamzah  Yusuf, ditranskrip Atho bin Sanady)</p>
<p>Diambil dari artikel salafy.or.id</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=6&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/28/tauhid-inti-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>