<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berjalan di Atas Manhaj Salafus Shalih</title>
	<atom:link href="http://abufaruq.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufaruq.wordpress.com</link>
	<description>Blog Abu Faruq as Salaf</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2007 08:04:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abufaruq.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0964f730d492a47f33ca5d3dd333626f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berjalan di Atas Manhaj Salafus Shalih</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Memuliakan rumah-rumah Allah</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 05:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/</guid>
		<description><![CDATA[ Memuliakan rumah-rumah Allah


Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi 
  
Sebidang tanah di bumi ini yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  adalah rumah-rumah- Nya (masjid) yang di dalamnya ditegakkan ibadah kepada-Nya dan Dia di Esakan ..
 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=39&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><font size="4"><strong><span class="print-title"> <font size="6"><span style="font-family:georgia;">Memuliakan rumah-rumah Allah</span></font></span></strong></font></p>
<p style="text-align:center;"><span class="print-sub"></span><br />
<span class="print-sub"></span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="print-sub"><span style="font-weight:bold;">Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi </span></span></p>
<hr />  <span class="print-normal"></p>
<p><font size="1"><span style="font-family:verdana;">Sebidang tanah di bumi ini yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</span><br /><span style="font-family:verdana;">  adalah rumah-rumah- Nya (masjid) yang di dalamnya ditegakkan ibadah kepada-Nya dan Dia di Esakan ..</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :</span><br /></font></span><span class="print-normal">فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang &#8221; .( An Nur : 36) .</span></font></span><span id="more-39"></span><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"></span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Maksud ayat ini bahwa Dia Yang Maha Tinggi memerintahkan kepada hamba-hamba- Nya agar menjaga dan membersihkan masjid dari kotoran, permainan, perkataan dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan di dalamnya. Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhu dan para ulama ahli tafsir yang lainnya tentang ayat ini bahwa Allah melarang melakukan sesuatu yang sia-sia di dalamnya .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Kaum Muslimin semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, bahwa masjid dibangun dengan tujuan digunakan sebagai tempat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , sholat, menyampaikan ilmu agama, mengadakan pembicaraan yang baik dan yang sejenisnya.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Oleh karena itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk memuliakan rumah-rumah Allah dengan menjaga adab-adab ketika hendak memasukinya dan ketika di dalamnya, di antara adab hendak masuk masjid dan ketika berada di dalamnya sebagaimana dituntunkan didalam agama kita adalah :</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;">  1. Membersihkan mulutnya dari bau yang tidak enak  ketika hendak mendatangi masjid .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Shalallahu &#8216;alahi wa sallam beliau bersabda:</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8221; Siapa yang makan bawang merah, bawang putih atau bawang bakung (jengkol, petai dan selainnya), maka sungguh janganlah dia mendekat masjid kami, karena malaikat terganggu dengan apa manusia terganggu dengannya&#8221;.</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;font-weight:bold;"> 2. Membaca sholawat atas nabi dan berdoa ketika hendak masuk ketika telah sampai pada pintunya.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan dalam Sunan Abu Dawud dan dishahihkan Al Imam Ibnu Hibban dari sahabat Abu Humaid atau Abu Usaid Al Anshory, berkata: Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda :</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Jika seseorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia membaca sholawat atas nabinya, kemudian hendaknya dia berkata :</span><br /></font></span><span class="print-normal">اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ  </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Ya Allah ya Tuhan kami, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku &#8221; .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Kemudian ketika keluar membaca :</span><br /></font></span><span class="print-normal">اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ</span><br /><span class="print-normal"> <font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;Ya Allah ya Tuhan kami , sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari keutamaan -Mu&#8221;. </span><br /><span style="font-family:verdana;"> Atau membaca doa-doa yang terdapat di dalam hadits-hadits shahih yang lainnya .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;">  3. Ketika masuk mendahulukan kaki kanan, di karenakan bagian kanan itu untuk sesuatu yang mulia , sedangkan ketika keluar melangkahkan kaki kiri, dalam rangka memuliakan yang kanan.</span><br /></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Al Imam Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan di dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8221; , dari Aisyah rodhiyallahu anha, dia berkata :</span><br /></font></span><span class="print-normal"><br />
يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ كَانَ النَّبِيُّ<br />
</span><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;">&#8220;Bahwasanya Nabi  suka mendahulukan bagian yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci dan dalam semua urusannya (yang mulia) &#8221; .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;font-weight:bold;"> 4. Menunaikan hak masjid yaitu melakukan sholat dua rakaat sebelum duduk (sholat tahiyatul masjid) kapanpun seseorang masuk dan walaupun sudah terlanjur duduk sebelum sholat.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Qatadah bin Rib&#8217;i Al-Anshory, dia berkata: Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam bersabda :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ</span> <br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;Jika seseorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk (di dalamnya) sehingga dia melakukan sholat dua rakaat &#8220;.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;">  Al Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkannya di dalam &#8220;Shahihnya&#8221; dari sahabat Abu Dzar bahwa dirinya telah masuk masjid (dan dia duduk sebelum sholat), maka Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam berkata kepadanya :&#8217;Apakah kamu telah melakukan sholat dua rakaat ?&#8217;, dia berkata : belum , maka beliau katakan :&#8217;berdirilah kamu dan sholatlah dua rakaat &#8216;&#8221; .</span><br /><font size="4"><br /><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 5. Tidak mengumumkan barang yang hilang di dalamnya .</span></font></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Al-Imam Ahmad, Muslim dan selain dari keduanya telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu.</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal"> مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا</span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Barang Siapa yang mendengar seseorang sedang mencari barang yang hilang di dalam masjid , maka hendaklah dia berkata : Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk demikian ini &#8221; .</span><br /><font size="2"><br /><span style="font-family:verdana;"> 6. Tidak melakukan jual beli di dalamnya .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Disebutkan di dalam hadits yang telah diriwayatkan Al Imam Tirmidzi, Nasai dan selain keduanya, juga dishahihkan oleh Al Imam Ibnu Khuzaimah dan Hakim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, sesungguhnya Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam</span><br /><span style="font-family:verdana;">  bersabda :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal"><br />
إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ &#8230;الحديث.</span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;">  &#8220;Jika kalian melihat seseorang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka katakanlah Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu… &#8221; .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Jual beli secara syar&#8217;i adalah tukar menukar barang dengan suka rela di atas sisi yang disyariatkan, maka jual beli itu ada empat macam:</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Barang dijual (ditukar) dengan barang .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Barang dijual dengan mata uang .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> . Mata uang dijual dengan mata uang (tukar menukar uang) baik yang sejenis seperti rupiah dengan rupiah atau yang tidak sejenis seperti rupiah dengan dolar.</span><br /><span style="font-family:verdana;"> .   Manfaat dengan harta ( jual jasa) .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Segala sesuatu yang tergolong dalam makna jual beli secara syar&#8217;i dan dilakukan di dalam masjid maka dia telah melakukan pelanggaran di dalamnya sehingga berhak didoakan kerugian sebagaimana yang ditunjukkan di dalam hadits ini , dan sebagian ulama memakruhkan memberikan pelajaran untuk anak-anak (juga dewasa) di dalam masjid yang ditetapkan upah di dalamnya karena tergolong dalam jual beli .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 7. Tidak melakukan pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada pribadi seseorang, sedangkan jika manfaatnya kembali kepada keumuman agama kaum muslimin seperti berlatih menggunakan pedang, mempersiapkan alat-alat perang untuk berjihad dan yang lainnya yang tidak mengandung makna penghinaan bagi masjid, maka tidak mengapa .</span></font></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Di dalam &#8220;Shahih Bukhari dan Muslim&#8221; dari Aisyah rodhiyallahu anha , dia berkata :</span><br /><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Sungguh aku melihat Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam pada suatu hari di pintu kamarku, sedangkan kaum muslimin Habasyah sedang bermain-main tombak (berlatihmenggunaka nnya) di dalam masjid , sementara Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam menutupi aku dengan pakaiannya , maka aku melihat permainan mereka&#8221; </span><br /><span style="font-family:verdana;"> .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Di dalam salah satu lafadznya Umar masuk lalu merendahkan badannya untuk mengambil kerikil, maka kerikil itu dilemparkannya kepada mereka, kemudian beliau Shalallahu &#8216;alahi wa sallam berkata : &#8220;Biarkan wahai Umar &#8221; .</span><br /><font size="2"><br /><span style="font-family:verdana;"> 8. Tidak mengeraskan suara ketika berbicara </span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> 	Di dalam &#8221; Shahih Bukhari &#8221; dari sahabat Sa&#8217;ib bin Yazid radhiyallahu &#8216;anhu</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , dia berkata : Aku pernah berdiri di dalam masjid , maka ada seseorang yang telah melempar kerikil kepadaku, lalu aku perhatikan orangnya ternyata dia adalah Umar bin Khathab, maka dia berkata: &#8220;datangilah dua orang itu kemudian bawalah mereka kepadaku&#8221;, lalu aku mendatanginya dengan dua orang itu , dan dia berkata: &#8220;Siapa kalian ini atau dari mana kalian berdua ini ?&#8221;, maka keduanya berkata :dari Thaif, lalu Dia (Umar) berkata : &#8220;Kalau kalian berdua dari penduduk negeri (Madinah) ini tentu aku cambuk kalian, karena kalian telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam&#8221; .</span><br /><span style="font-family:verdana;"> Sebagian ulama membolehkan mengeraskan suara dalam pembicaraan ilmu (agama) dan selainnya yang dibutuhkan kaum muslimin karena ia adalah tempat berkumpulnya mereka yang terkadang harus melakukannya .</span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 9. Tidak membaca syair-syair yang mengandung makna syirik dan mungkar, sedangkan jika mengandung makna yang benar seperti makna tauhid dan ketaatan tidaklah terlarang selama tidak menjadikan orang lain yang ada di masjid tersibukkan dengannya dari ibadahnya.</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam &#8220;Shahih Bukhari dan Muslim&#8221;, dari sahabat Abu Hurairah bahwasanya Umar berjalan melewati Hasan bin Tsabit sedang mendendangkan syair-syair di dalam masjid , maka Umar mengarahkan perhatian kepadanya dengan tidak suka , maka Hasan berkata :&#8221;Sungguh aku pernah mendendangkan syair (di dalam masjid) dan di dalamnya ada seseorang yang labih baik dari engkau (yaitu Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam)&#8221; </span></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:verdana;"> 10. Tidak duduk melingkar di dalamnya sebelum ditegakkannya sholat jumat walaupun untuk mempelajari ilmu (agama), disebabkan akan memutus shaf-shaf kaum muslimin dan disamping itu mereka diperintahkan untuk berkumpul lebih awal pada hari jum&#8217;at dan merapatkan shaf yang di depan dan seterusnya .</span></font></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan Al Imam Ibnu Khuzaimah di dalam &#8220;Shahihnya&#8221; , dan Tirmidzi di dalam &#8220;Sunannya&#8221; dan dia menghasankannya dari Amer bin Syu&#8217;aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wa sallam :</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">أَنَّهُ نَهي أَنْ يَتَحَلَّقَ النَّاسُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> 	&#8220;…. Sesungguhnya beliau melarang manusia duduk melingkar (di dalam masjid) pada hari jum&#8217;at sebelum sholat (jum&#8217;at) &#8221; .</span><br /><font size="2"> <br /><span style="font-family:verdana;"> 11. Tidur di dalam masjid dibolehkan baik laki-laki maupun perempuan , terlebih lagi bagi para musafir dan orang yang tidak memiliki rumah atau karena ada hajat .</span></font><br /><span style="font-family:verdana;"> Terdapat di dalam &#8220;Shahih Bukhari&#8221; dan selainnya bahwa Ibnu Umar radhiyallahu &#8216;anhu tidur di masjid Nabi Shalallahu &#8216;alahi wa sallam di masa beliau ketika dirinya masih muda sebelum berkeluarga .</span><br /><span style="font-family:verdana;">           Al Imam Bukhari menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu</span><br /><span style="font-family:verdana;"> , dia berkata : Sungguh aku melihat tujuh puluh ahli suffah – yaitu para sahabat yang fakir &#8211; (tidur di masjid Nabi), tidak ada dari mereka yang memiliki rida (pakaian bagian atas badan) , sebaliknya di antara mereka ada yang memiliki kain penutup badan saja , atau satu helai pakaian saja, kain itu mereka ikatkan pada leher-leher mereka, maka di antara pakaian itu ada yang naik sampai pertengahan kedua betisnya, dan di antaranya ada yang naik sampai kedua mata kakinya , lalu dia rapatkan dengan tangannya karena tidak suka auratnya terbuka .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Wahai saudaraku muslimin hiasilah diri engkau dengan adab dan akhlak yang mulia di manapun berada terlebih lagi ketika di dalam masjid, pakailah masjid itu hanya sebagai tempat dzikir (beribadah) kepada Allah, janganlah dijadikan sebagai tempat bermain, berdagang, tempat duduk-duduk, dan sebagai jalan tanpa ada sebab, janganlah engkau berikan bagian (ibadah) itu untuk selain Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalamnya .</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;">           Dia Yang Maha Suci berfirman :</span><br /></font></span><span class="print-normal">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</span><br /> <span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah &#8221; . (QS Al-Jin :18).</span></p>
<p><span style="font-family:verdana;"> Seseorang yang menegakkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya niscaya dia meraih keberuntungan di dunia dan di akhirat kelak .</span><br /></font></span><span class="print-normal">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</span><br /><span class="print-normal"> <font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar&#8221;.(QS Al-Ahzab:71) .</span></p>
<p></font></span><span class="print-normal">نَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ(7)جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِي رَبَّهُ(8َ </span><br /><span class="print-normal"><font size="1"><span style="font-family:verdana;"> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya&#8221;.(QS Al Bayyinah: 7-8).</span></font>  <span style="font-family:times new roman,serif;"></span></p>
<p>Wallahu a&#8217;lam Bish-Shawab. ..</p>
<p><span style="font-weight:bold;"> Maraji :</span><br />
<font size="1"> 1. Tafsir Al-Imam Qurtubi.<br />
2. Tafsir Al-Imam Ibnu Katsir.<br />
3.Shahih Bukhari dengan syarah Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar.<br />
4. Shahih Muslim dengan syarah  Al-Imam Nawawi.<br />
5.Sunan Tirmidzi dengan syarah Tuhwatul Ahwadzi,  Al Mubarokfury Abul &#8216;Ala.<br />
6. Sunan Nasa&#8217;i dengan Hasyiyah As-Sindi.<br />
7. Sunan Abu Dawud dengan syarah Aunul Ma&#8217;bud, Muhamad Syamsul Hak Al-Abadi.<br />
8. Shahih Al-Imam Ibnu Huzaimah.<br />
9.  Al-Mustadrok  Al-Imam  Hakim.<br />
10. Subulus Salam Syarah Bulughul Marom, Al-Imam Son&#8217;ani .<br />
11.At-Tuhfatul Kirom Ta&#8217;lik Bulughul Marom , Sofiyurrohman Al Mubarokfuri .<br />
12. Syarah Kitab Al Buyu&#8217; , Syaikh  Abdurrohman Al Mar&#8217;i Al -Adani  Al- Yamani.</font></p>
<p>Sumber : Buletin Da&#8217;wah Al-Hikmah, Semarang<br />
Dikirim via email oleh Al-Akh Abu Zubair Eko</span>http://www.darussalaf.org/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=article&amp;sid=645</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=39&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/memuliakan-rumah-rumah-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari (4)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-4/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 02:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-4/</guid>
		<description><![CDATA[8.                 ETIKA BERBICARA
Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia.” (An-Nisa: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=38&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061173"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>8.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA BERBICARA</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya pembicaran <font color="blue"><span style="color:blue;">selalu di dalam kebaikan</span></font>. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia.” (An-Nisa: 114).</span></font><span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya pembicaran dengan <font color="blue"><span style="color:blue;">suara yang dapat didengar</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak terlalu keras</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak pula terlalu rendah</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">ungkapannya jelas dapat difahami</span></font> oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Jangan membicarakan</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> sesuatu yang <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak berguna bagimu</span></font>. Hadits Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu di dalam hadisnya menuturkan: Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menghindari perdebatan</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">saling membantah</span></font>, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan <font color="blue"><span style="color:blue;">menjauhi perkataan dusta</span></font> <font color="red"><span style="color:red;">sekalipun bercanda</span></font>. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Tenang</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dalam berbicara dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak tergesa-gesa</span></font>. Aisyah Radhiallaahu ‘anha telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya.” (Mutta-faq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menghindari perkataan jorok</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (keji). Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu <strong><font color="#ff6600"><span style="color:#ff6600;font-weight:bold;">tidak</span></font></strong><font color="blue"><span style="color:blue;"> </span></font>pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menghindari sikap <font color="blue"><span style="color:blue;">memaksakan diri </span></font>dan <font color="blue"><span style="color:blue;">banyak bicara </span></font>di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah <font color="red"><span style="color:red;">orang yang banyak bicara</span></font>, orang yang berpura-pura <em><span style="font-style:italic;">fasih</span></em> dan orang-orang yang <em><span style="font-style:italic;">mutafaihiqun</span></em>.” Para  shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti <em><span style="font-style:italic;">mutafaihiqun</span></em>? Nabi menjawab: “<font color="red"><span style="color:red;">Orang-orang yang sombong</span></font>.” (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menghindari perbuatan <font color="blue"><span style="color:blue;">menggunjing (<em><span style="font-style:italic;">ghibah</span></em>)</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">mengadu domba</span></font>. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mendengarkan pembicaraan orang lain <font color="blue"><span style="color:blue;">dengan baik</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak memotongnya</span></font>, juga <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak menganggap rendah</span></font> <font color="blue"><span style="color:blue;">pendapatnya</span></font> atau <font color="blue"><span style="color:blue;">mendustakannya</span></font>. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jangan <font color="blue"><span style="color:blue;">memonopoli dalam berbicara</span></font>, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menghindari perkataan kasar</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, <font color="blue"><span style="color:blue;">keras</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">ucapan yang menyakitkan perasaan</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan</span></font> orang lain dan <font color="blue"><span style="color:blue;">kekeliruannya</span></font>, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menghindari sikap <font color="blue"><span style="color:blue;">mengejek</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">memperolok-olok</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">memandang rendah</span></font> orang yang berbicara. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan).” (Al-Hujurat: 11).</span></font></p>
<p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061174"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>9.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA BERBEDA PENDAPAT</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Ikhlas</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">mencari yang haq</span></font> serta <font color="blue"><span style="color:blue;">melepaskan diri dari nafsu</span></font> di saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada <font color="blue"><span style="color:blue;">Kitab Al-Qur’an dan Sunnah</span></font>. Karena Allooh Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya:</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allooh (Kitab) dan Rasul.” (An-Nisa: 59).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Berbaik sangka</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> kepada orang yang berbeda pendapat denganmu dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebisa mungkin berusaha untuk <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak memperuncing perselisihan</span></font>, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berusaha sebisa mungkin untuk <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak mudah menyalahkan orang lain</span></font>, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Berlapang dada</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatan yang dialamatkan kepada anda.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sedapat mungkin <font color="blue"><span style="color:blue;">menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah </span></font>dan <font color="blue"><span style="color:blue;">fitnah</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berpegang teguh dengan <font color="blue"><span style="color:blue;">etika berdialog</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">menghindari perdebatan</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">bantah-membantah</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">kasar menghadapi lawan</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061175"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>10.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">             </span></font></span></span></font></strong>ETIKA BERCANDA</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya percandaan <font color="red"><span style="color:red;">tidak mengandung nama Allah</span></font>, <font color="red"><span style="color:red;">ayat-ayat-Nya</span></font>, <font color="red"><span style="color:red;">Sunnah rasul-Nya</span></font> atau <font color="red"><span style="color:red;">syi’ar-syi’ar Islam</span></font>. Karena Allooh telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang ahli baca al-Qur’an yang artinya:</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya percandaan itu adalah <font color="blue"><span style="color:blue;">benar tidak mengandung dusta</span></font>. Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “<font color="blue"><span style="color:blue;">Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah</span></font>.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur <font color="blue"><span style="color:blue;">menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia</span></font>. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bercanda <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak boleh </span></font>dilakukan <font color="blue"><span style="color:blue;">terhadap orang yang lebih tua darimu</span></font>, atau <font color="blue"><span style="color:blue;">terhadap orang yang tidak bisa bercanda</span></font> atau <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak dapat menerimanya</span></font>, atau <font color="blue"><span style="color:blue;">terhadap perempuan yang bukan mahrammu</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya anda <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu</span></font>, dan <font color="blue"><span style="color:blue;">jatuhlah wibawamu</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[Diambil dari “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”, ditulis oleh Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=38&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari (3)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-3/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 02:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-3/</guid>
		<description><![CDATA[5.                 ETIKA MEMBERI SALAM
Makruh memberi salam dengan ucapan: “ ‘Alaikumus salam” karena di dalam h adit s Jabir Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan: Aku pernah menjumpai Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka aku berkata: “ ‘Alaikas salam ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=37&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="mnc"><a title="_Toc155061170" rel="nofollow" name="_Toc155061170"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>5.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA MEMBERI SALAM</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh memberi salam dengan ucapan: “ ‘Alaikumus salam”</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> karena di dalam h adit s Jabir Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan: Aku pernah menjumpai Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka aku berkata: “ ‘Alaikas salam ya Rasulallah.” Nabi menjawab: “Jangan kamu mengatakan: ‘Alaikas salam.” Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan “ ‘alaikas salam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dianjurkan <font color="blue"><span style="color:blue;">mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya</span></font>. Di dalam h adit s Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali.” (HR. Al-Bukhari).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Termasuk sunnah adalah <font color="blue"><span style="color:blue;">orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua</span></font>. Demikianlah disebutkan di dalam h adit s Abu Hurairah yang muttafaq’alaih.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya</span></font>, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam h adit s Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “Dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun.” (HR. Muslim).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunatkan memberikan salam di waktu <font color="blue"><span style="color:blue;">masuk ke suatu majlis</span></font> dan ketika <font color="blue"><span style="color:blue;">akan meninggalkannya</span></font>. Karena h adit s menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua.” (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan memberi salam di saat <font color="blue"><span style="color:blue;">masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu kosong</span></font>, karena Allooh telah berfirman yang artinya: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“ Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma: “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan: <em><span style="font-style:italic;">Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin</span></em>” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (buang hajat), karena h adit s Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma yang menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka <font color="blue"><span style="color:blue;">Nabi tidak menjawabnya</span></font>.” (HR. Muslim)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">memberi salam kepada anak-anak</span></font>, karena h adit s yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, sebab Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani&#8230;..” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa ‘alaikum” saja, karena sabda Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: wa ‘alaikum.” (Muttafaq’alaih).<a href="http://us.f317.mail.yahoo.com/dc/blank.html?bn=478&amp;.intl=us#_ftn1" title="_ftnref1" rel="nofollow" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><sup><font color="blue"><span style="color:blue;font-weight:bold;">[1]</span></font></sup></strong></span></a></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">memberi salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal</span></font>. Di dalam h adit s  Abdullah bin Umar Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Islam yang manakah yang paling baik?” Jawab Nabi: “Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya</span></font>. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab: “ <em><span style="font-style:italic;">‘alaika wa ‘ala abikas salam</span></em>”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Dilarang memberi salam dengan isyarat kecuali ada uzur</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam h adit s Jabir bin Abdillah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dengan tangan.” (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan kepada seseorang <font color="blue"><span style="color:blue;">berjabat tangan dengan saudaranya</span></font>. H adit s Rasulullooh mengatakan: “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan <font color="blue"><span style="color:blue;">diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah</span></font>” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yang dijabat-tangani itu melepasnya</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. H  adit s yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya&#8230;.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="red" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:red;">Haram hukumnya membungkukkan tubuh</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> atau <font color="red"><span style="color:red;">sujud ketika memberi penghormatan</span></font>, karena h adit s yang bersumber dari Anas menyebutkan: Ada  seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullooh, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya?” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya: “Apakah ia merangkul dan menciumnya?” Jawab Nabi: “Tidak.” Orang itu bertanya: “Apakah ia berjabat tangan dengannya?” Jawab Nabi: “Ya, jika ia mau.” (HR. At-Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="red" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:red;">Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: “Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita.” (HR. Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).</span></font></p>
<p class="mnc"><a title="_Toc155061171" rel="nofollow" name="_Toc155061171"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>6.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA MEMINTA IZIN</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya orang yang akan meminta izin <font color="blue"><span style="color:blue;">memilih waktu yang tepat</span></font> untuk minta izin.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya orang yang akan minta izin <font color="blue"><span style="color:blue;">mengetuk pintu rumah</span></font> orang yang akan dikunjunginya secara pelan. Anas Radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya ia telah berkata: Sesung-guhnya pintu-pintu kediaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diketuk (oleh para tamunya) <font color="blue"><span style="color:blue;">dengan ujung kuku</span></font>.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya orang yang mengetuk pintu <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak menghadap ke pintu yang diketuk</span></font>, tetapi sebaiknya menolehkan pandangannya ke kanan atau ke kiri agar pandangan tidak terjatuh kepada sesuatu di dalam rumah tersebut yang dimana penghuni rumah tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Karena minta izin itu sebenarnya dianjurkan untuk menjaga pandangan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebelum minta izin hendaknya <font color="blue"><span style="color:blue;">memberi salam terlebih dahulu</span></font>. Rib’iy berkata: Telah bercerita kepada saya seorang lelaki dari Bani ‘Amir, bahwasanya ia pernah minta izin kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau ada di suatu rumah. Orang itu berkata: Bolehkah saya masuk? Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pembantunya: “Jumpailah orang itu dan ajari dia cara minta izin, dan katakan kepadanya: <em><font color="blue"><span style="color:blue;font-style:italic;">Ucapkan Assalamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?.</span></font></em>” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Minta izin itu sampai <font color="blue"><span style="color:blue;">tiga kali</span></font>, jika sesudah tiga kali tidak ada jawaban maka <font color="blue"><span style="color:blue;">hendaknya pulang</span></font>. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu minta izin sudah tiga kali, lalu tidak diberi izin, maka hendaklah ia pulang.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apabila orang yang minta izin itu <font color="blue"><span style="color:blue;">ditanya tentang namanya</span></font>, maka hendaklah ia menyebutkan <font color="blue"><span style="color:blue;">nama dan panggilannya</span></font>, dan <font color="red"><span style="color:red;">jangan mengatakan: “Saya”</span></font>. Jabir Radhiallaahu ‘anhu menuturkan: “Aku pernah datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan hutang yang ada pada ayah saya. Maka aku ketuk pintu (rumah Nabi). Lalu Nabi berkata: “Siapa itu?.” Maka aku jawab: “Saya.” Maka Nabi berkata: “Saya! Saya!” dengan nada tidak suka.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Hendaknya peminta izin pulang apabila permintaan izinnya ditolak</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, karena Allooh telah berfirman yang artinya:</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan jika dikatakan kepada kamu “pulang”, maka pulanglah kamu, karena yang demikian itu lebih suci bagi kamu.” (An-Nur: 28).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya peminta izin <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak memasuki rumah apabila tidak ada orangnya</span></font>, karena hal tersebut merupakan perbuatan melampaui hak orang lain.</span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[Diambil dari “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”, ditulis oleh Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=37&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/09/etika-kehidupan-muslim-sehari-hari-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Mustajab</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 07:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Faruq as Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/</guid>
		<description><![CDATA[Doa Mustajab
Berikut adalah salah satu tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdoa. Semoga dengan mengamalkannya, doa kita bisa dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang bangun tidur pada malam hari kemudian membaca
لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ، سُبْحَانَ اللّهُ وَالْحَمْدُلِلَّهِ، [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=36&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><a href="http://wiramandiri.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/" rel="bookmark" title="Doa Mustajab">Doa Mustajab</a></h2>
<p class="snap_preview">Berikut adalah salah satu tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdoa. Semoga dengan mengamalkannya, doa kita bisa dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.<span></span></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang bangun tidur pada malam hari kemudian membaca</p>
<p>لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ، سُبْحَانَ اللّهُ وَالْحَمْدُلِلَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرْ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّهِ</p>
<p><em>Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah semata, tiada sekutu baginya. Bagi-Nya-lah seluruh kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Menentukan segala sesuatu. Maha suci Allah dan dan segala puji bagi-Nya. Dan Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan seizin Allah.</em></p>
<p>Lalu dia berkata,<br />
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ</p>
<p>Wahai Rabb-ku ampunilah aku.<br />
Atau jika dia berdoa, maka akan dikabulkan. Apabila dia berwudhu kemudian shalat, maka shalatnya akan diterima.<br />
<strong>(HR. Al-Bukhari).</strong></p>
<p>Diambil dari: <a href="http://wiramandiri.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/">http://wiramandiri.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/ </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=36&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/04/03/doa-mustajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 04:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?
Jawaban.
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=35&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?</strong></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?<span id="more-35"></span></p>
<p>Jawaban.<br />
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.</p>
<p>Sungguh Allah Ta&#8217;ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya.<br />
<span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;"><span></span></span><span dir="rtl" style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span><br />
&#8220;Artinya : Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.&#8221;[Ali Imran:103]</p>
<p>Dan Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221; [Al-Anfal: 63]</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala selama-lamanya tidak akan menyatukan antara hati orang-orang kafir, murtad dan firqah-firqah (kelompok-kelompok) sesat [1], Allah hanya menyatukan hati orang-orang mukmin yang bertauhid. Allah Ta&#8217;ala berfirman mengenai orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan akidahnya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.&#8221; [Al-Hasyr : 14]</p>
<p>Dan firman-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.&#8221; [Hud : 118]</p>
<p>&#8220;Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Rabbmu&#8221;, mereka itu ialah orang-orang yang memiliki akidah yang benar dan manhaj yang benar, maka mereka itulah orang-orang yang selamat dari perselisihan dan perpecahan.</p>
<p>Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidahnya masih rusak, manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud, karena sesungguhnya menyatukan dua hal yang berlawanan itu adalah hal yang mustahil.</p>
<p>Karena tidak bisa menyatukan hati dan menyatukan umat ini, kecuali kalimat tauhid [2], yang dimengerti makna-maknanya, diamalkan kandungannya secara lahir dan batin, bukan hanya sekedar mengucapkannya, sedang pada sisi yang lain masih mau menyelisihi apa yang menjadi tuntutannya. Maka sesungguhnya ketika itu kalimat tauhid ini tidak akan ada manfaatnya.</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah ?An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Keadaan firqah-firqah dan hizb-hizb (golongan-golongan yang menyimpang) yang ada di muka bumi saat ini -sebagaimana dikatakan adalah merupakan saksi dan menjadi bukti yang paling nyata, karena mereka berbeda-beda dalam memahami Al-Kitab (Al-Qur&#8217;an), dan berbeda-beda dalam mengamalkannya, serta mereka menyelisihi Al-Kitab. Apabila hati manusia itu sepakat dan saling mengenal maka akan menyatu, dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Sebagaimana Rasulullah menyebutkannya dalam hadits shahih bahwa beliau bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Ruh-ruh adalah pasukan tentara maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang saling mengingkari akan berselisih.&#8221; [HR. Al-Bukhari: 3158]<br />
[2]. Orang-orang yang berusaha menyatukan umat manusia bersamaan dengan rusaknya akidah dan manhaj (berbagai kelompok) yang berbeda-beda itu -sebagai contoh saja bukan hanya terbatas pada contoh ini- pada jaman kita ini adalah firqah Ikhwanul Muslimin (IM) di mana mereka berusaha menyatukan barisan-barisannya yang terdiri dari Rafidhah, Jahmiyyah, Asy&#8217;ariyah, Khawarij, Mu&#8217;tazilah. Bahkan orang-orang Nasrani pun bisa masuk pada barisan mereka, maka janganlah engkau lupakan perkara yang sangat nyata ini. Wahai para pembaca yang budiman, telah kita lewati ucapan-ucapan beberapa ahli ilmu (ulama) mengenai mereka ini dalam sela-sela kitab ini. Yang kesimpulannya merka (IM) tidak mementingkan dakwah tauhid dan tidak berhati-hati dan memperingatkan kesyirikan. Dan ini adalah meruapan sifat (ciri-ciri) khusus yang dimiliki oleh &#8216;firqah tabligh&#8217; pula. Karena Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah (pengikut Sayyid Quthub) tidaklah jauh berbeda dari firqah tablih ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=35&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/berbeda-bedanya-manhaj-dan-aqidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WUDHU &#8211; NIAT</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/wudhu-niat/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/wudhu-niat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 04:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/wudhu-niat/</guid>
		<description><![CDATA[FIQIH WUDHU BAB NIAT
Oleh
Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman
Pertanyaan.
Niat apakah yang dimaksudkan dalam berwudhu dan mandi (wajib) ? Apa hukum perbuatan yang dilakukan tanpa niat dan apa dalilnya ?
Jawaban.
Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat untuk menghilangkan hadats atau untuk menjadikan boleh suatu perbuatan yang diwajibkan bersuci, oleh karenanya amalan-amalan yang dilakukan tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=34&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong>FIQIH WUDHU BAB NIAT</strong></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Niat apakah yang dimaksudkan dalam berwudhu dan mandi (wajib) ? Apa hukum perbuatan yang dilakukan tanpa niat dan apa dalilnya ?<span id="more-34"></span></p>
<p>Jawaban.<br />
Niat yang dimaksud dalam berwudhu dan mandi (wajib) adalah niat untuk menghilangkan hadats atau untuk menjadikan boleh suatu perbuatan yang diwajibkan bersuci, oleh karenanya amalan-amalan yang dilakukan tanpa niat tidak diterima. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Artinya : Dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus [Al-Bayyinah : 5]</p>
<p>Dan hadits dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu, bawha Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>Artinya : Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat ; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kearah (keridhaan) Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kearah yang ditujunya [1]</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Apa makna istishhab hukum niat dan istishhab dzikir niat ? Apa hukum masing-masingnya ? Dan kapan diwajibkan dan dianjurkan menghadirkan niat bagi orang yang ingin bersuci ?</p>
<p>Jawaban<br />
Istishhab hukum niat maksudnya tidak memutuskan niat tersebut sampai selesai bersuci, dan ini hukumnya wajib. Adapun istishhab dzikir (pengingatan)nya maksudnya adalah niat tersebut selalu berada dalam benaknya di semua ibadah, dan hukumnya mustahab (dianjurkan). Niat ini wajib dihadirkan di awal kewajiban-kewajiban bersuci, yaitu ketika mengucapkan basmalah, demikian pula dianjurkan menghadirkannya di awal sunnah-sunnah bersuci jika terdapat sunnah bersuci.</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Asâilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syarâiyyah jilid I]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya (hadits no. 1,54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953 dengan lafal yang berbeda-beda) dan muslim dalam kitab shahihnya hadits no. 1907. Dan lafal hadits yang tersebut diatas dicantumkan oleh An-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin dan kitab Arbaâin dan Ibnu Rajab dalam kitab Jamiâ Ulum wal Hikam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=34&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/wudhu-niat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Birrul Walidain</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/birrul-walidain/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/birrul-walidain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 04:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/birrul-walidain/</guid>
		<description><![CDATA[LIMA PERKARA TERMASUK BERBAKTI  KEPADA KEDUA ORANG TUA SETELAH MENINGGAL
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana caranya berbakti kepada kedua orang tua ? Dan apakah boleh ibadah umrah (mengumrahkan) untuk salah seorang mereka walaupun pernah melaksanakannya ?
Jawaban
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada mereka dengan harta, wibawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=33&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>LIMA PERKARA TERMASUK BERBAKTI  KEPADA KEDUA ORANG TUA SETELAH MENINGGAL</strong></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana caranya berbakti kepada kedua orang tua ? Dan apakah boleh ibadah umrah (mengumrahkan) untuk salah seorang mereka walaupun pernah melaksanakannya ?<span id="more-33"></span></p>
<p>Jawaban<br />
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada mereka dengan harta, wibawa (kedudukan) dan bantuan fisik. Ini hukumnya wajib. Sedangkan durhaka kepada kedua orang tua termasuk perbuatan yang berdosa besar, yaitu tidak memenuhi hak-hak mereka. Berbuat baik kepada mereka semasa hidup, sudah maklum, sebagaimana kami sebutkan tadi, yaitu dengna harta, wibawa (kedudukan) dan bantuan fisik. Adapun setelah meninggal, maka cara berbaktinya adalah dengan mendo’akan dan memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman-teman mereka dan memelihara hubungan kekerabatan yang ada tidak akan punya hubungan kekerabatan dengan mereka tanpa keduanya. Itulah lima perkara yang merupakan bakti kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia.</p>
<p>Bersedekah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus, misalnya dengan mengatakan kepada sang anak, “Bersedekahlah”. Namun yang lebih tepat, “Jika engkau bersedekah, maka itu boleh”. Jika tidak bersedekah, maka mendo’akan mereka adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Artinya : Jika seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalnya kecuali tiga, shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya” [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Washiyah (1631)]</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa do’a itu bersetatus memperbaharui amal. Ini merupakan dalil bahwa mendo’akan kedua orang tua setelah meninggal adalah lebih utama daripada ibadah umrah (mengumrahkan) mereka, membacakan Al-Qur’an untuk mereka dan shalat untuk mereka, karena tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggantikan yang utama dengan yang tidak utama, bahkan tentunya beliau pasti menjelaskan yang lebih utama dan menerangkan bolehnya yang tidak utama. Dalam hadits tadi beliau menjelaskan yang lebih utama.</p>
<p>Adapun tentang bolehnya yang tidak utama, disebutkan dalam hadits Sa’d bin Ubaidillah, yaitu saat ia meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersedekah atas nama ibunya, lalu beliau mengizinkan[1]. Juga seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal tiba-tiba, dan aku lihat, seandainya ia sampai berbicara, tentu ia akan bersedekah. Bolehkah aku besedekah atas namanya ?” Beliau menjawab, “Boleh”[2]</p>
<p>Yang jelas, saya sarankan kepada anda untuk banyak-banyak mendo’akan mereka sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya, karena hal itulah yang ditujukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kendati demikian, kami tidak mengingkari bolehnya bersedekah, umrah, shalat atau membaca Al-Qur’an atas nama mereka atau salah satunya. Adapun bila mereka memang belum pernah melaksanakan umrah atau haji, ada yang mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban atas nama keduanya adalah lebih utama daripada mendo’akan. Wallahu a’lam</p>
<p>[Kitab Ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin 2/148-149]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Washaya (2760)<br />
[2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Janaiz (1388), Muslim dalam Al-Washiyah (1004)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=33&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/birrul-walidain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENENTANG IBUNYA&#8230;&#8230;!!!!</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/menentang-ibunya/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/menentang-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 03:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/birrul-walidain/</guid>
		<description><![CDATA[MENENTANG IBUNYA KARENA DIPERINTAHKAN UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN YANG MELANGGAR ALLAH DAN RASULNYA
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukumnya, bila seorang anak perempuan tidak mentaati ibunya karena ibunya itu memintanya untuk bermaksiat kepada Allah, seperti menyuruhnya untuk tabbaruj dan bepergian, dan menganggap hijab itu adalah khurafat belaka, tidak ada kebenarannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=32&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>MENENTANG IBUNYA KARENA DIPERINTAHKAN UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN YANG MELANGGAR ALLAH DAN RASULNYA</strong></p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukumnya, bila seorang anak perempuan tidak mentaati ibunya karena ibunya itu memintanya untuk bermaksiat kepada Allah, seperti menyuruhnya untuk tabbaruj dan bepergian, dan menganggap hijab itu adalah khurafat belaka, tidak ada kebenarannya di dalam agama, dan menyuruhnya untuk pergi ke pesta, dan mamakai pakaian yang diharamkan oleh Allah atas seorang perempaun dan memarahi anaknya bila mengenakan hijab ?<span id="more-32"></span></p>
<p>Jawaban<br />
Tidak boleh taat kepada makhluk, baik itu ayah, ibu maupun yang lainnya, di dalam maksiat kepada Allah.</p>
<p>Rasulullah bersabda.<br />
â€œArtinya : Sesungguhnya ketaatan itu hanya di dalam perbuatan yang baikâ€™</p>
<p>Dan beliau bersabda pula.</p>
<p>â€œArtinya : Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam maksiat kepada khalikâ€</p>
<p>Apa-apa yang diperintahkan oleh ibu penanya di atas adalah perbuatan-perbuatan maksiat, maka jelas tidak boleh mentaatinya, dan semoga si penanya dan ibunya diberikan hidayah dan dilindungi dari godaan setan</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jamiâ€™ah Lil Marâ€™atil Muslimah, edisi Indonesiap Fatwa-Fatwa Tentang wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq]</p>
<p>HUKUM MENTAATI KEDUA ORANG TUA DENGAN BERMAKSIAT TERHADAP ALLAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Saya seorang muslimah, alhamdulillah saya melakukan setiap yang diridhai Allah dan konsisten menganakan hijab syarâ€™i. Tapi ibu saya â€“semoga Allah memaafkannya- tidak menghendaki saya mengenakan hijab dan menyuruh saya nonton di bioskop dan video â€¦ dst, ia mengatakan, â€œJika kamu tidak bersenang-senang, kamu akan segera tua dan berubanâ€</p>
<p>Jawaban<br />
Hendaknya anda tetap bersikap lembut terhadap ibu anda, berbuat baik kepadanya dan berbicara dengan yang lebih baik, karena hak seorang ibu sangat agung, namun demikian anda tidak boleh mematuhinya pada selain yang maâ€™ruf, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu â€˜alaihi wa sallam.</p>
<p>â€œArtinya : Sesungguhnya ketaatan itu pada yang maâ€™rufâ€ [1]</p>
<p>Dan sabdanya.</p>
<p>â€œArtinya : Tidak boleh mentaati mekhluk dengan bemaksiat terhadap Allah Subhanahu wa Taâ€™alaâ€ [2]</p>
<p>Begitu pula sikap terhadap ayah, suami dan sebagainya, tidak boleh mematuhi mereka dengan melakukan kemaksiatan terhadap Allah, demikian berdasarkan hadits-hadits tadi.</p>
<p>Kendati demikian, seorang isteri, atau anak, tetap menempuh cara yang baik untuk mengatasi problema-problema tersebut, yaitu dengan menjelaskan dalil-dalil syariatnya, keharusan mentaati Allah dan RasulNya, waspada terhadap perbuatan maksiat kepada Allah dan RasulNya, sambil terus konsisten melaksanakan kebenaran, tidak mematuhi perintah yang menyelisihi kebenaran, baik perintah itu dari suami, ayah, ibu ataupun lainnya.</p>
<p>Tidak ada salahnya menyaksikan acara televisi atau video yang tidak mengandung kemungkaran, mendengarkan seminar-seminar ilmiah dan kajian-kajian yang bermanfaat, dengan tetap waspada sehingga tidak menyaksikan acara-acara yang menampilkan kemungkaran, juga tidak boleh menonton di bioskop serta kebatilan-kebatilan lainnya.</p>
<p>[Majmuâ€™ Fatawa wa Maqalat Mutanawwiâ€™ah, Juz 5, hal. 358, Syaikh Ibnu Baz]</p>
<p>[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syarâ€™iyyah Fi Al-Masaâ€™il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Ahkam 7145, Muslim dalam Al-Imarah 1840<br />
[2]. Hadits Riwayat Ahmad 1098 dari hadits Ali dengan riwayat yang seperti itu, 20130 dari hadits Imron 20131 dari hadits Al-Hakim bin Amr. Al-Haitsami dalam Al-Majma 5/226 mengatakan, â€œAhmad meriwayatkan dengan beberapa lafazh, Ath-Thabari meriwayatkan secara ringkas, di antaranya ; â€œTidak boleh ada ketaatan terhadap makhluk dengan melakukan kemaksiatan terhadap Khaliqâ€. Para perawi jalur Imam Ahmad adalah orang-orang yang tergolong shahih.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=32&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/menentang-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” (2)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-2/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 03:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-2/</guid>
		<description><![CDATA[ “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”
3.                 ETIKA BERPAKAIAN DAN BERHIAS
Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek: “Apabila Allooh mengaruniakan kepadamu harta, maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=30&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="mnc" align="center"> <strong><u><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:bold;">“Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”</span></font></u></strong></p>
<p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061168"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>3.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA BERPAKAIAN DAN BERHIAS</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan memakai <font color="blue"><span style="color:blue;">pakaian baru, bagus dan bersih</span></font>. Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek: “Apabila Allooh mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni’mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pakaian <font color="blue"><span style="color:blue;">harus menutup aurat</span></font>, yaitu longgar <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak membentuk lekuk tubuh</span></font> dan tebal <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pakaian laki-laki <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya</span></font>. Karena h adit s yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Rasulullooh melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).</span></font><span id="more-30"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pakaian <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran)</span></font>, karena Rasulullooh Radhiallaahu ‘anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allooh akan mengenakan padanya <font color="blue"><span style="color:blue;">pakaian kehinaan di hari Kiamat</span></font>.” (HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pakaian <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa</span></font> atau <font color="blue"><span style="color:blue;">gambar salib</span></font>, karena h adit s yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: “Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Laki-laki <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak boleh memakai emas</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">kain sutera</span></font> kecuali <font color="red"><span style="color:red;">dalam keadaan terpaksa</span></font>. Karena h adit s yang bersumber dari Ali Radhiallaahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Allooh Subhaanahu wa Ta’ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dari umatku.” (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pakaian laki-laki <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki</span></font>. Karena Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu <font color="red"><span style="color:red;">di dalam neraka</span></font>.” (HR. Al-Bukhari).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menutup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada h adit s yang menyatakan: “Allah <font color="red"><span style="color:red;">tidak akan memperhatikan</span></font> di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">mendahulukan bagian yang kanan</span></font> di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam h  adit snya berkata: “Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka ber<em><span style="font-style:italic;">tayammun</span></em> (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’.” (Muttafaq’-alaih).Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Segala puji bagi Allooh yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan memakai <font color="blue"><span style="color:blue;">pakaian berwarna putih</span></font>, katrena h adit s mengatakan: “Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu &#8230;” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan</span></font>, <font color="red"><span style="color:red;">kecuali</span></font> bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang ber<em><span style="font-style:italic;">ihdad</span></em> (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika <font color="blue"><span style="color:blue;">ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam h adit snya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah.” Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061169"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>4.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA DI JALANAN</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Berjalan dengan <font color="blue"><span style="color:blue;">sikap wajar </span></font>dan <em><font color="blue"><span style="color:blue;font-style:italic;">tawadlu’</span></font></em>, <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak berlagak sombong</span></font> di saat berjalan atau <font color="blue"><span style="color:blue;">mengangkat kepala karena sombong</span></font> atau <font color="blue"><span style="color:blue;">mengalihkan wajah dari orang lain karena <em><span style="font-style:italic;">takabbur</span></em></span></font>. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allooh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Memelihara pandangan mata</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, <font color="blue"><span style="color:blue;">baik bagi laki-laki maupun perempuan</span></font>. Allooh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: “Hendaklah mereka <font color="blue"><span style="color:blue;">menahan pandangannya</span></font>, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allooh Yang Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya&#8230;.” (An-Nur: 30-31).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Tidak mengganggu</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, yaitu <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak membuang kotoran</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">sisa makanan di jalan-jalan manusia</span></font>, dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak buang air besar</span></font> <font color="blue"><span style="color:blue;">atau kecil</span></font> di situ atau di tempat yang dijadikan tempat mereka bernaung.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menyingkirkan gangguan dari jalan</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Ini merupakan sedekah yang karenanya <font color="blue"><span style="color:blue;">seseorang bisa masuk surga</span></font>. Dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika ada seseorang sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allooh bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya&#8230;” Di dalam suatu riwayat disebutkan: “maka Allooh memasukkannya ke surga.” (Muttafaq’alaih). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menjawab salam orang yang dikenal</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ataupun <font color="blue"><span style="color:blue;">yang tidak dikenal</span></font>. <font color="red"><span style="color:red;">Ini hukumnya wajib</span></font>, karena Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “  Ada lima  perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya- diantaranya: menjawab salam.” (Muttafaq alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Beramar ma’ruf dan nahi munkar</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menunjukkan orang yang tersesat</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (salah jalan), <font color="blue"><span style="color:blue;">memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">menegur orang yang berbuat keliru</span></font> serta <font color="blue"><span style="color:blue;">membela orang yang teraniaya</span></font>. Di dalam h  adit s disebutkan: “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah&#8230;dan disebutkan diantaranya: berbuat adil di antara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya di atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah&#8230;.” (Muttafaq alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="red" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:red;">Perempuan hendaknya berjalan di pinggir jalan</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Pada suatu ketika Nabi pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka ia bersabda kepada wanita: “Meminggirlah kalian, kalain tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri pinggir jalan.” (HR. Abu Daud, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidak ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu tergolong di dalam tolong-menolong di dalam kebajikan. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[Diambil dari “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”, ditulis oleh Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=30&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” (1)</title>
		<link>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-1/</link>
		<comments>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 03:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Faruq as Salafy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-1/</guid>
		<description><![CDATA[ “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”
  
Oleh: 
Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan
  PENGANTAR
 
Dengan menyebut nama Allooh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
  
Segala puji bagi Allooh yang telah mengajarkan kesempurnaan etika kepada manusia dan membuka pintu bagi mereka untuk mengamalkannya. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada manusia terbaik yang beribadah dan kembali kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=29&subd=abufaruq&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:15pt;" align="center"><strong><u><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:bold;"><span style="text-decoration:none;"> </span>“Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”</span></font></u></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:15pt;" align="center"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:15pt;" align="center"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Oleh: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:15pt;" align="center"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  PENGANTAR</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan menyebut nama Allooh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">  </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Segala puji bagi Allooh yang telah mengajarkan kesempurnaan etika kepada manusia dan membuka pintu bagi mereka untuk mengamalkannya. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada manusia terbaik yang beribadah dan kembali kepada Allah.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sesungguhnya Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala perihal dan urusannya, agama dan dunianya, lapang dan kesulitannya, bangun dan tidurnya, dikala bepergian dan iqamah, makan dan minum, bahagia dan sedihnya. Tidak ada perkara kecil ataupun besar apapun yang tidak dijelaskan oleh Islam.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullooh telah menggoreskan buat kita melalui ucapan dan perbuatannya rambu-rambu etika yang seyogya-nya ditempuh oleh setiap mu’min di dalam hidupnya. Melalui kepribadiannya yang mulia, Rasulullooh telah menjelaskan kepada kita contoh etika yang seharusnya ditiru. Maka barang siapa yang menghendaki kebahagiaan, hendaklah ia menempuh jalan hidup Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam dan meneladani etikanya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Oleh karena kebanyakan orang pada akhir-akhir ini yang tidak mengetahui etika-etika tersebut atau butuh untuk diingatkan kembali, maka kami memandang perlu menyajikannya secara singkat, dengan iringan do’a kepada Allooh semoga amal ini berguna bagi segenap kaum muslimin.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Semoga shalawat dan salam tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.</span></font><span id="more-29"></span></p>
<p><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"></span></font></strong></p>
<p class="mnc"><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>1.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">            </span></font></span></span></font></strong>ETIKA TIDUR DAN BANGUN</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Berintrospeksi diri (<em><span style="font-style:italic;">muhasabah</span></em>) sesaat sebelum tidur</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim ber<em><span style="font-style:italic;">muhasabah</span></em> (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allooh Subhaanahuwa Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari ‘Aisyah radhialloohu’anha “Bahwasanya Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam tidur pada awal malam dan <font color="blue"><span style="color:blue;">bangun pada pengujung malam</span></font>, lalu beliau <font color="blue"><span style="color:blue;">melakukan shalat</span></font>.” (Muttafaq ‘alaih) </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan <font color="blue"><span style="color:blue;">berwudhu’ sebelum tidur</span></font>, dan <font color="blue"><span style="color:blue;">berbaring miring sebelah kanan</span></font>. Al-Bara’ bin ‘Azibradhialloohu’anhu menuturkan: Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan&#8230;” Dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya</span></font>. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan pula <font color="blue"><span style="color:blue;">mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring</span></font>, berdasarkan hadit s Abu Hurairah radhialloohu’anhu bahwasanya Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya&#8230;” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali.” (Muttafaq ‘alaih). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh tidur tengkurap</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Abu Dzar radhialloohu’anhu menuturkan: “Nabi sallalloohu’alaihi wa sallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda: “Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah <font color="blue"><span style="color:blue;">cara berbaringnya penghuni neraka</span></font>.” (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh tidur di atas dak terbuka</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, karena di dalam h adit s yang bersumber dari ‘Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi sallalloohu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menutup pintu, jendela dan memadamkan api</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">lampu sebelum tidur</span></font>. Dari Jabir radhialloohu’anhu diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq’alaih). </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Membaca ayat Kursi</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan <font color="blue"><span style="color:blue;">Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)</span></font>, karena banyak h adit s-h  adit s shahih yang menganjurkan hal tersebut. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Membaca do’a-do’a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam, seperti: “<em><span style="font-style:italic;">Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka”</span></em></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu.” Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan membaca: “<em><span style="font-style:italic;">Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya”</span></em></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo’a dengan do’a berikut ini : “<em><span style="font-style:italic;">A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna</span></em>.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaknya apabila bangun tidur membaca : “<em><span style="font-style:italic;">Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru</span></em>”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Segala puji bagi Allooh yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)</span></font></p>
<p class="mnc"><a rel="nofollow" name="_Toc155061167"></a><strong><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;"><span>2.<font face="Times New Roman" size="1"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                 </span></font></span></span></font></strong>ETIKA (ADAB) BUANG HAJAT</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Segera membuang hajat</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Apabila seseorang merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Menjauh dari pandangan manusia</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> di saat buang air (hajat). Berdasarkan h adit s yang bersumber dari al-Mughirah bin Syu’bah Radhiallaahu ‘anhu disebutkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila pergi untuk buang air (hajat) maka beliau menjauh.” (Diriwayatkan oleh empat Imam dan dinilai shahih oleh Al-Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menghindari tiga tempat terlarang, yaitu <font color="blue"><span style="color:blue;">aliran air</span></font>, <font color="blue"><span style="color:blue;">jalan-jalan manusia</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">tempat berteduh mereka</span></font>. Sebab ada h adit s dari Mu’adz bin Jabal Radhiallaahu ‘anhu yang menyatakan demikian.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidak mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu <font color="blue"><span style="color:blue;">supaya aurat tidak kelihatan</span></font>. Di dalam h adit s yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Biasanya apabila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Albani).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidak membawa sesuatu yang mengandung <font color="blue"><span style="color:blue;">penyebutan Allooh kecuali karena terpaksa</span></font>. Karena tempat buang air (WC dan yang serupa) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, dan di situ <font color="blue"><span style="color:blue;">setan berkumpul</span></font> dan demi untuk memelihara nama Allooh dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Dilarang menghadap atau membelakangi kiblat</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, berdasarkan h adit s yang bersumber dari Abi Ayyub Al-Anshari radhialloohu’ahu menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila kamu telah tiba di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketentuan di atas berlaku apabila <font color="blue"><span style="color:blue;">di ruang terbuka saja</span></font>. Adapun jika <font color="blue"><span style="color:blue;">di dalam ruang</span></font> (WC) atau adanya pelindung/penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka <font color="blue"><span style="color:blue;">boleh menghadap ke arah kiblat</span></font>.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Dilarang kencing di air yang tergenang</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (tidak mengalir), karena h adit s yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ.” (Muttafaq’alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh mencuci kotoran dengan tangan kanan</span></font><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">, karena h adit s yang bersumber dari Abi Qatadah Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu memegang <em><span style="font-style:italic;">dzakar</span></em> (kemaluan)nya dengan tangan kanannya di saat ia kencing, dan jangan pula bersuci dari buang air dengan tangan kanannya.” (Muttafaq’alaih).Dianjurkan kencing dalam keadaan duduk</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, tetapi boleh jika sambil berdiri. Pada dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan h adit s ‘Aisyah Radhiallaahu ‘anha yang berkata: </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Siapa yang telah memberitakan kepada kamu bahwa Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka jangan kamu percaya, sebab Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kencing kecuali sambil duduk.” (HR. An-Nasa’i dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Sekalipun demikian seseorang <font color="blue"><span style="color:blue;">dibolehkan kencing sambil berdiri</span></font> dengan syarat badan dan pakaiannya <font color="blue"><span style="color:blue;">aman dari percikan air kencingnya</span></font> dan <font color="blue"><span style="color:blue;">aman dari pandangan orang lain</span></font> kepadanya. Hal itu karena ada h adit s yang bersumber dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (di suatu perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh daripadanya. Maka beliau bersabda: “Mendekatlah kemari.” Maka aku mendekati beliau hingga aku berdiri di sisi kedua mata kakinya. Lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya.” (Muttafaq alaih).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh berbicara di saat buang hajat</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> kecuali darurat berdasarkan h adit s yang bersumber dari Ibnu Umar Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan: “Bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullooh sallalloohu’alaihi wa sallam sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya.” (HR. Muslim).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Makruh bersuci (<em><span style="font-style:italic;">istijmar</span></em>) dengan mengunakan tulang dan kotoran hewan</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, dan disunnatkan bersuci dengan jumlah ganjil. Di dalam h adit s yang bersumber dari Salman Al-Farisi Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ia berkata: “Kami dilarang oleh Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber<em><span style="font-style:italic;">istinja</span></em> (bersuci) dengan menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau ber<em><span style="font-style:italic;">istinja</span></em> dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (<em><span style="font-style:italic;">istijmar</span></em>), maka <font color="blue"><span style="color:blue;">hendaklah diganjilkan</span></font>.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Disunnatkan masuk ke WC dengan <font color="blue"><span style="color:blue;">mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan</span></font> berbarengan dengan dzikirnya masing-masing. Dari Anas bin Malik Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullooh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk ke WC mengucapkan : “<em><span style="font-style:italic;">Allaahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaaits</span></em>”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pada syetan jantan dan setan betina.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan apabila keluar, mendahulukan kaki kanan sambil mengucapkan: “<em><span style="font-style:italic;">Ghufraanaka</span></em>” (ampunan-Mu ya Allah).</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><font color="blue" face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:blue;">Mencuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat</span></font><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Di dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah radhialloohu&#8217;anhu diriwayatkan bahwasanya “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang berada pada sebejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).</span></font></p>
<p><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font face="Verdana" size="2"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[Diambil dari “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”, ditulis oleh Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaruq.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaruq.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaruq.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaruq.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaruq.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaruq.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaruq.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaruq.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaruq.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaruq.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaruq.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaruq.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaruq.wordpress.com&blog=905950&post=29&subd=abufaruq&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaruq.wordpress.com/2007/03/30/%e2%80%9cetika-kehidupan-muslim-sehari-hari%e2%80%9d-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9b0ba0fc6f128dbf620f18c786a7bbe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abu faruq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>